Sejumlah siswi nampak bahagia menikmati Makanan Bergizi Gratis (MBG). Program ini mulai memberikan dampak nyata bagi perkembangan anak.
Di Dusun Sorisoga, Kabupaten Dompu, sekotak susu bukan sekadar pelengkap sarapan. Ia adalah garis pertahanan pertama melawan stunting. Di tengah statistik prevalensi gizi buruk yang masih menghantui Nusa Tenggara Barat, SDN 20 Pekat menjadi saksi bagaimana intervensi gizi mampu mengubah wajah pendidikan di pelosok. Dari ruang kelas sederhana di kaki Gunung Tambora, sebuah program nasional sedang diuji. Mampukah segelas susu memutus rantai kemiskinan dan menghidupkan kembali mimpi yang sempat lesu?
Laporan: Saudi – Tambora Post
Sesaat sebelum memasuki bulan suci Ramadhan, Tambora Post berkesempatan mengunjungi sebuah sekolah dasar di pelosok barat Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Berada tepat di kaki Gunung Tambora, sekolah ini berdiri di antara bentang ladang kering yang gersang.
Jaraknya dua kilometer dari jalan lintas Calabai. Tampak singkat di atas peta, namun terasa jauh saat musim penghujan tiba. Aspal berganti menjadi kubangan tanah liat yang pekat dan lengket, memaksa anak-anak menanggalkan alas kaki demi bisa melangkah.
Mereka datang dengan apa adanya. Mengenakan tas usang yang berkali-kali dijahit ulang oleh jemari ibu mereka, dan seringkali dengan perut yang keroncongan. Bukan karena enggan sarapan, melainkan karena tak ada yang bisa tersaji di atas meja hari itu.
Namun, beberapa bulan terakhir, ada magnet baru yang membuat langkah mereka lebih ringan menembus lumpur. Mereka datang bukan hanya belajar mengeja huruf atau berhitung, melainkan untuk sesuatu yang jauh lebih mendasar bagi tubuh mereka. Sekotak susu.
Di halaman sekolah, kotak-kotak susu tersusun rapi di atas meja kayu yang mulai kusam. Antrean terbentuk tanpa komando. Tangan-tangan kecil menggenggam kemasan putih itu dengan khidmat, seolah takut kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Di Dusun Sorisoga, susu bukan hanya minuman bergizi. Ia adalah energi, bentuk perhatian, dan tanda paling nyata bahwa negara mulai hadir di piring mereka. “Sekarang mereka lebih semangat,” ujar Irawati, S.Pd., guru yang telah lebih dari satu dekade mengabdi di sana.
Ia hafal betul wajah-wajah lesu yang dulu sering menunduk sebelum jam pelajaran usai. “Sebelum ada program susu, menjelang siang mereka sudah lemas. Sekarang, mereka bisa bertahan dengan fokus hingga jam terakhir,” ungkapnya.
Program ini adalah bagian dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah kebijakan nasional untuk memutus rantai stunting. Bagi Kepala Sekolah SDN 20 Pekat, Mukhsin, S.Pd., dampaknya instan. “Kehadiran meningkat tajam. Anak-anak datang lebih pagi karena takut ketinggalan jatah susu,” ungkapnya.
Melawan Statisik, Menanam Masa Depan
Apa yang terjadi di SDN 20 Pekat adalah upaya kecil melawan statistik yang mengerikan. Data survei kesehatan mencatat prevalensi stunting di NTB hingga Desember 2025 mencapai 29,8 persen. Sebuah lonjakan yang mengkhawatirkan. Di Kabupaten Dompu sendiri, per Desember 2025, tercatat 10,89 persen atau sekitar 2.276 balita masih terjebak dalam masalah gizi kronis.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas. Mereka adalah anak-anak yang tumbuh terlambat. Mereka adalah masa depan yang berjalan tertatih sebelum sempat berlari. Dalam konteks inilah, segelas susu di kaki Gunung Tambora menjadi garis pertahanan pertama.
Bagi banyak keluarga petani tadah hujan di Desa Pekat, susu adalah kemewahan yang tak terjangkau. “Kami makan seadanya. Sekarang anak saya lebih kuat dan tidak mudah sakit,” kata Sri Rahmawati, salah satu orang tua siswa dengan nada haru.
Ujian Keberlanjutan di Jalur Terpencil
Namun, menghadirkan nutrisi ke Dusun Sorisoga bukan perkara mudah. Infrastruktur yang terbatas dan ketiadaan fasilitas pendingin menjadi tantangan logistik yang nyata. Beruntung, teknologi kemasan aseptik memungkinkan susu tetap aman meski harus melewati jalur distribusi yang berat.
Kepala Desa Pekat, Sahlan, melihat program ini sebagai langkah menuju keadilan sosial. Meski begitu, ia menyimpan kekhawatiran yang sama dengan banyak warga lainnya. Yakni soal keberlanjutan. “Anak desa punya mimpi yang sama dengan anak kota. Tapi kalau program ini berhenti, mereka akan kembali ke kondisi semula,” ujarnya lirih.
Kekhawatiran itu beralasan. Akademisi dari STIE Dompu, Dr. Dodo Kurniawan, SE., ME., menilai intervensi gizi adalah investasi SDM jangka panjang yang tak boleh terhenti karena siklus politik. “Jika anggaran gizi dipangkas, yang dipangkas sebenarnya adalah kualitas masa depan bangsa,” tegasnya.
Bel pulang berbunyi. Anak-anak berlarian keluar kelas, meninggalkan tumpukan kotak susu kosong di sudut ruangan. Di dalam kelas, seorang siswa berdiri menjawab soal matematika dengan suara lantang. Dulu ia jarang mengangkat tangan, namun hari ini ia tampil penuh percaya diri.
Perubahan kecil ini mungkin tidak langsung menaikkan grafik pertumbuhan ekonomi nasional secara instan. Namun di Dusun Sorisoga, perubahan itu nyata. Segelas susu telah memberi mereka keberanian untuk bermimpi dan keyakinan bahwa mereka tidak lagi dilupakan.
Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan di ruang-ruang rapat ber-AC di ibu kota. Ia sedang dipertaruhkan di ruang kelas sederhana seperti SDN 20 Pekat. Di mana harapan hadir dalam kemasan kecil dan negara benar-benar terasa hadir di tengah mereka. (*)
![]()









