**Harga Stabil, Harapan Menguat**
Bagi petani, hasil panen yang melimpah belum tentu berarti jika harga tidak bersahabat. Namun, pada musim tanam 2025–2026, cerita itu berubah.
Harga jagung di Dompu bertahan stabil di atas Rp5.000 per kilogram. Angka yang bagi sebagian orang mungkin terlihat biasa, tetapi bagi petani, ini adalah titik balik.
“Ini yang paling kami rasakan. Produksi banyak, harga juga bagus. Jadi hasilnya benar-benar terasa,” ungkap Imran, petani di Kecamatan Kempo.
Ia mengaku, sebelumnya petani sering berada dalam posisi sulit. Saat panen melimpah, harga justru jatuh. Namun kini, keseimbangan mulai terjaga.
“Sekarang kami tidak takut lagi panen banyak. Justru kami semangat meningkatkan produksi,” katanya.
Kondisi ini tidak terjadi begitu saja. Pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan mengambil peran penting dalam menjaga ekosistem pertanian tetap sehat.
Syahrul Ramadhan menjelaskan bahwa stabilitas harga merupakan hasil dari koordinasi lintas sektor.
“Kami terus membangun komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk pelaku pasar, agar harga tetap stabil dan petani tidak dirugikan,” jelasnya.
Lebih dari itu, pemerintah juga memastikan distribusi hasil panen berjalan lancar. Infrastruktur pendukung terus diperbaiki, sehingga rantai pasok tidak terhambat.
Bagi para petani, kondisi ini memberikan rasa aman.
“Kami bisa menghitung, bisa merencanakan. Tidak lagi bertani dengan penuh ketidakpastian,” ujar Imran.
Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian nasional, Dompu justru menunjukkan bahwa dengan manajemen yang tepat, petani bisa berdiri lebih kuat.
Dan yang paling penting, mereka mulai kembali percaya bahwa bertani adalah masa depan yang layak diperjuangkan. (kerjasama)
![]()










