Panen perdana sekaligus syukuran pertanian organik yang diinisiasi oleh PT. AMMAN Mineral untuk petani di Maluk dan Benete.
Hasil panen hingga dua kali lipat membuat petani Maluk mulai melirik pertanian organik yang diinisiasi AMMAN. Berikut laporan.
SAUDI – TAMBORA POST
Ada rasa penasaran yang tumbuh di antara petani di Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat. Sabran dan Razulal adalah dua di antara petani yang mulai memperhatikan perubahan itu.
Mereka melihat bagaimana sawah yang sebelumnya mengandalkan pola pertanian konvensional kini mulai dikelola dengan pendekatan berbeda. Pupuk kimia dikurangi, bahan-bahan yang tersedia di sekitar lahan dimanfaatkan, sementara tanah kembali diperlakukan sebagai bagian penting dari keberhasilan pertanian.
Yang membuat keduanya semakin tertarik bukan sekedar penjelasan dalam pelatihan. Hasil panennya bisa dilihat langsung.
Pada bulan april 2026 lalu, petani Desa Benete dan Desa Maluk menggelar syukuran panen perdana penerapan System of Rice Intensification (SRI) Organik. Dari lahan tersebut, produktivitas padi mencapai 10,02 ton per hektare, jauh di atas rata-rata pola konvensional yang selama ini berkisar 4–5 ton per hektare.
Bagi Sabran dan Razulal, angka tersebut menjadi pembuktian bahwa cara bertani yang selama ini dianggap berbeda ternyata memiliki peluang untuk dikembangkan.
Selama bertahun-tahun, petani di wilayah Maluk terbiasa menggunakan pupuk dan pestisida kimia untuk mempertahankan produksi.
Namun, tingginya biaya input menjadi persoalan tersendiri. Ketika hasil panen tidak selalu meningkat sebanding dengan biaya produksi, sebagian petani mulai mencari cara lain.
Sabran melihat perubahan tersebut sebagai peluang untuk belajar. “Awalnya saya hanya melihat dan mendengar cerita dari petani yang sudah mencoba. Tapi setelah melihat sendiri hasil panennya, saya jadi tertarik,” ujarnya.
Selama ini mereka terbiasa menggunakan pupuk kimia. Sementara biayanya terus meningkat. “Kalau dengan cara organik biaya bisa ditekan dan hasilnya justru bagus, tentu ini menarik untuk kami pelajari,” ujar Sabran.
Menurut Sabran, hal yang membuatnya semakin yakin adalah perubahan yang terlihat langsung di lahan. “Bukan hanya hasil panennya yang membuat kami tertarik, kondisi tanahnya juga kelihatan berbeda. Ini yang membuat saya berpikir, kalau cara seperti ini bisa diterapkan di lahan kami, kenapa tidak dicoba,” katanya.
Sementara itu, Razulal mengaku keberhasilan petani yang telah lebih dulu menerapkan SRI Organik membuat dirinya semakin terbuka untuk mengubah cara bertani.
“Selama ini kami berpikir kalau mau hasil banyak harus menggunakan pupuk dan obat yang banyak. Tapi setelah melihat hasil dari pertanian organik, ternyata ada cara lain. Hasilnya bagus dan biaya juga bisa lebih ditekan,” ujar Razulal.
Ia berharap pengalaman petani yang sudah berhasil menerapkan SRI Organik dapat menjadi pembelajaran bagi petani lainnya.
“Kami tentu ingin belajar lebih banyak. Kalau memang terbukti bisa meningkatkan hasil dan membuat tanah lebih sehat, kami sebagai petani tentu ingin ikut mencoba. Apalagi bahan-bahannya banyak tersedia di sekitar kami,” katanya.
Bagi Razulal, keberhasilan satu kelompok petani seharusnya tidak berhenti pada kelompok tersebut. “Kalau satu petani berhasil, petani lain harus bisa belajar. Jangan hanya dilihat hasil panennya, tetapi ilmunya juga harus dibagikan. Harapannya semakin banyak petani yang tertarik dan pertanian organik bisa berkembang di Maluk,” ujarnya.
Bagi dia, keberhasilan petani yang sudah lebih dahulu menerapkan pertanian organik memberikan keyakinan bahwa perubahan pola budidaya bukan sesuatu yang mustahil.
Ketertarikan semacam itu menjadi salah satu efek yang diharapkan dari program SRI Organik.
Sebab, perubahan di sektor pertanian tidak selalu dimulai dari keputusan besar. Kadang, perubahan dimulai ketika seorang petani melihat sawah milik petani lain tumbuh lebih baik dan kemudian bertanya. Bagaimana caranya?
Petani Belajar Membuat Kesuburan Sendiri
Program SRI Organik yang diinisiasi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) bersama Aliksa Organik memperkenalkan pendekatan Pertanian Sehat, Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan (PSRLB).
Petani diajak mengurangi ketergantungan terhadap input pertanian dari luar dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.
Jerami, kotoran ternak dan tanaman hijau yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat diolah menjadi bahan pupuk organik dan Mikroorganisme Lokal (MOL).
Dengan demikian, petani tidak hanya belajar cara meningkatkan produksi, tetapi juga belajar menekan biaya.
Hamzah, Presidium Pertanian Organik Kecamatan Maluk, mengatakan pada awalnya tidak semua petani langsung percaya bahwa metode organik mampu memberikan hasil tinggi.
“Awalnya saya ragu. Bagaimana mungkin bertani tanpa pupuk kimia bisa berhasil? Dulu kami hanya tahu semakin banyak obat, semakin bagus,” ujarnya.
Keraguan itu perlahan hilang setelah petani melihat sendiri perubahan di lahan.
Tanah yang sebelumnya keras menjadi lebih gembur. Kondisi tanah juga bergerak menuju pH netral. Di sekitar persawahan, keberadaan burung dan serangga predator mulai terlihat sebagai bagian dari ekosistem alami.
Namun, bagi petani, perubahan paling mudah diukur tetaplah hasil panen.
Produksi yang mencapai 10,02 ton per hektare menjadi bukti paling sederhana untuk menjelaskan bahwa pertanian organik bukan sekadar gagasan.
Ketika Keberhasilan Mulai Menular

Dari Desa Benete dan Desa Maluk, pengetahuan tentang SRI Organik perlahan mulai bergerak ke kelompok petani lainnya.
Sabran dan Razulal menjadi bagian dari cerita tersebut.
Ketertarikan mereka menunjukkan bahwa keberhasilan satu kelompok dapat menjadi pemicu bagi petani lain untuk belajar dan mencoba.
Di sinilah program pendampingan mulai menemukan dampak yang lebih luas.
Bukan hanya tentang satu musim panen, tetapi tentang bagaimana pengetahuan berpindah dari satu petani kepada petani lainnya.
Kelompok petani muda dan karang taruna di Kecamatan Maluk juga mulai dilibatkan. Harapannya, pertanian organik tidak berhenti pada petani yang sudah lebih dahulu menjalankannya, tetapi menjadi pengetahuan yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.
Vice President Social Impact AMMAN Priyo Pramono mengatakan program tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas teknis dan kelembagaan petani.
“Program SRI Organik di Kecamatan Maluk adalah upaya kami untuk mendukung masyarakat petani memiliki kapasitas teknis dan kelembagaan yang kuat. Mendukung kemampuan menekan biaya produksi hingga mendapatkan hasil pertanian atau produktivitas yang lebih besar,” ujarnya.
Dari Sawah Menuju Kemandirian
Keberhasilan panen perdana kemudian menjadi awal dari pekerjaan yang lebih panjang.
Petani tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan beras organik, tetapi juga membangun kelembagaan, memperluas akses pasar dan mengembangkan produk turunannya.
Presidium Pertanian Organik Kecamatan Maluk menjadi wadah bagi petani untuk saling bertukar pengalaman.
Bumdes Desa Maluk juga mulai dilibatkan dalam pengembangan potensi ekonomi dari pertanian tersebut.
Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah, S.T., M.Si., menilai keberhasilan tersebut dapat menjadi tempat pembelajaran bagi daerah lain.
“Para petani bisa menjadi duta petani organik Sumbawa Barat,” katanya.
Ia berharap praktik baik tersebut dapat direplikasi di desa-desa lain. “Apa yang kita saksikan hari ini adalah bukti bahwa inovasi dan kearifan lokal bisa berjalan beriringan,” ujarnya.
Kini, tantangannya adalah membawa keberhasilan di sawah menuju tahap berikutnya: sertifikasi beras organik, pengembangan sayuran organik, sertifikasi MOL hingga membuka akses pasar yang lebih luas.
Sementara bagi Sabran dan Razulal, cerita itu dimulai dari sesuatu yang sederhana. Melihat.Kemudian bertanya. Lalu tertarik mencoba.
Sebab dalam dunia pertanian, satu keberhasilan yang terlihat mata sering kali lebih kuat daripada seribu teori.
Dan di Maluk, satu sawah yang mampu menghasilkan 10,02 ton per hektare kini mulai membuat petani lain bertanya-tanya. Bisakah hasil yang sama tumbuh di sawah mereka?

Ir. Satrijo Saloko, M.P., Dekan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram, memberikan apresiasi terhadap program pendampingan yang dilakukan AMMAN kepada para petani.
Menurutnya, upaya mendorong petani beralih pada praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan merupakan langkah positif karena tidak hanya berdampak pada kualitas hasil pertanian, tetapi juga dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
“Program seperti ini sangat positif karena petani tidak hanya diberikan bantuan, tetapi juga didorong untuk mengubah pola pikir dan cara bertani. Ketika metode yang lebih ramah lingkungan mampu menghasilkan produktivitas yang lebih baik, tentu ini menjadi contoh yang menarik dan bisa mendorong petani lainnya untuk mengikuti,” ujar Satrijo.
Ia menilai keberhasilan petani yang telah menerapkan metode tersebut dapat menjadi bukti bahwa pertanian berkelanjutan bukan sekadar konsep, tetapi dapat memberikan manfaat nyata apabila dilakukan secara konsisten dan didukung dengan pendampingan yang tepat.
“Yang paling penting adalah keberlanjutan. Ketika petani sudah merasakan sendiri manfaatnya, baik dari sisi hasil panen maupun efisiensi biaya, maka ketertarikan petani lain untuk mencoba akan tumbuh secara alami,” katanya. (*)
![]()





