KEPOLISIAN memiliki tugas yang sangat mulia. Meliputi pemeliharaan keamanan, ketertiban, penegakan hukum, perlindungan, penganyom dan pelayanan masyarakat. Tentu dengan tugas itu aparat polisi dituntut memiliki kepribadian dan moral yang baik.
Namun terkadang sebuah teori berbeda dengan praktik lapangan. Tidak jarang ada ‘oknum’ kepolisian memiliki kepribadian yang melenceng dari nilai dasar dan pedoman moral polri. Seperti, meminum dan menggunakan barang-barang terlarang.
Seperti halnya pernah dialami oleh seorang anggota polisi yang bertugas di Polres Dompu, Briptu Rifaid. Dia pernah terjerumus ke dunia hitam dan mengaku tertipu atas kesenangan dunia yang sementara.
Perjalanan hidup Briptu Rifaid memang sungguh dahsyat. Penuh gejolak dan tikungan tajam. Proses pergulatan yang luar biasa dialaminya hingga menemukan ketentraman.
Seorang teman menyadarkannya bahwa ia sudah terlalu jauh dari Allah. Saat itu juga dia memutuskan untuk hijrah ke jalan yang benar. Bergabung dalam majelis tabliqh.
Penampilannyapun kini berubah menjadi berjenggot dan agamis. Selain terpacu untuk rajin melaksanakan tugas sebagai seorang anggota polisi. Briptu Rifaid juga aktif keliling dari masjid ke masjid mengajak teman-temanya salat di masjid.
Sejumlah teman-temanya yang dulu sesama memakai barang haram kini sudah berhasil diajak untuk kembali ke jalan benar.
Dunia hitam itu tinggal kenangan dalam dirinya. Ia merasa hidupnya lebih berarti. Dan kini ia sadar bahwa Allah tidak meletakan kebahagian pada kesenangan dunia. Namun kebahagian yang indah hanya ada dalam ketaatan pada allah. (di)
![]()










