Nampak korban penembakan dengan senapan angin oleh temannya sendiri sudah tidak bernyawa. Ini adalah kejadian kedua sebelumnya menimpa seorang bocah di Desa Sorinomo, Kecamatan Pekat.
Dentuman itu kecil. Tapi dampaknya memecah dunia. Dua keluarga menjadi kepingan duka. Penyebabnya adalah senapan angin di tangan yang salah. Inilah laporan.
SAUDI – DOMPU
Di tengah ladang jagung Desa Sorinomo, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, sebuah pondok kecil menjadi saksi bisu tragedi memilukan. Tangis seorang ibu menggema, memecah kesunyian pedesaan. Di hadapannya, sang buah hati TC, bocah perempuan berusia tiga tahun terbaring tanpa nyawa.
Sebutir peluru senapan angin bersarang di kepalanya. Yang menarik pelatuk bukanlah penjahat. Melainkan kakak kandungnya sendiri. Seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun yang mengira senapan itu hanyalah mainan.
Tragedi itu baru awal. Hanya sehari berselang, duka serupa menyelimuti sebuah rumah di Desa Nowa, Kecamatan Woja. IKB, remaja 17 tahun, tewas setelah tertembak di bagian dada saat sedang bermain ponsel.
Pelakunya adalah SA, tidak lain sahabatnya sendiri yang masih duduk di bangku SMP. Ia mengaku hanya bercanda dengan senapan angin yang ditemukan di rumah saudaranya.
Dua nyawa muda melayang. Dua keluarga hancur. Dan satu pola yang berulang. Senapan angin, tergeletak tanpa pengamanan, berada di tangan yang salah.
Ceritanya, kejadian pertama berlangsung saat dua keluarga petani membawa anak-anak mereka ke ladang jagung. Dalam suasana santai, anak-anak bermain di pondok kecil tempat keluarga beristirahat. Tanpa pengawasan ketat, senapan angin jenis PCP diletakkan begitu saja. Tidak terkunci, tidak dibongkar, tidak diamankan.
Sekilas benda itu menjadi alat pembunuh dalam tangan bocah polos yang bahkan belum memahami arti kematian.
Keesokan harinya, nasib serupa menimpa IKB. Ceritanya, bersama temannya, SA (pelaku), mereka mengunjungi rumah kakak SA. Di ruang tamu, senapan PCP kembali ditemukan dalam kondisi tak terkunci. Tanpa berpikir panjang, SA mengangkatnya, mengarahkan ke dada IKB, dan menekan pelatuk. Dentuman kecil terdengar. Jerit singkat menyusul. Setelah itu, hanya sunyi dan sesal.
Duka mendalam menyelimuti dua keluarga korban. Di Sorinomo, sang ibu masih kerap menangis saat mengenang putrinya yang lincah. Di Nowa, orang tua IKB hanya bisa memandangi ponsel anaknya yang kini diam selamanya.
Selama ini, senapan angin PCP ini kerap digunakan masyarakat untuk berburu atau menjaga ladang. Tidak memerlukan izin layaknya senjata api militer, keberadaannya menyebar luas, bahkan dianggap barang biasa di banyak rumah.
Namun daya rusaknya nyata. Ini bukan hanya alat hobi atau pelindung ladang. Ia bisa berubah menjadi mesin maut jika berada di tangan yang salah.
“Banyak yang tidak paham bahayanya. Disimpan di ruang tamu, di pojok rumah, bahkan bisa dijangkau anak-anak,” ujar seorang tokoh masyarakat di Desa Nowa.
Dari tragedi ini, muncul peringatan keras, bahwa satu kelalaian kecil bisa merenggut nyawa. Bahwa senapan, meskipun bukan senjata militer, tak pernah pantas berada dalam jangkauan anak-anak.
Polisi kini mengimbau masyarakat agar lebih bijak menyimpan senapan angin. Gunakan brankas. Bongkar jika tidak dipakai. Ajarkan anak bahwa ini bukan mainan. Karena nyawa tidak bisa dikembalikan.
Tragedi ini meninggalkan luka yang dalam bagi mereka yang kehilangan. Tapi bagi kita semua, ini adalah pengingat keras bahwa keselamatan anak-anak tidak boleh dikompromikan.
Dua dentuman kecil. Dua nyawa melayang. Tapi pelajaran ini harusnya menggema keras, bahwa yang tampak sepele bisa jadi bencana ketika kita lengah. Tetaplah waspada sebelum penyesalan itu datang. (*)
![]()










