INOVASI PERTANIAN— Seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) menunjukkan tanaman durian hasil inovasi yang kini mulai berbuah di kebun percontohan belakang rumah.
Penulis : Saudi Al Gibran
SORE ITU, langit Kecamatan Pekat tampak murung. Hujan baru saja berhenti, menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Jalan menuju Desa Kandidi Barat masih lembab, meninggalkan jejak ban kendaraan dan gemericik air yang perlahan meresap ke bumi.
Di pinggir jalan menuju Latonda, berdirilah rumah milik seorang penyuluh pertanian yang namanya sudah akrab di telinga para petani Tambora. Ia dikenal bukan karena jabatan, tapi karena cara kerjanya yang tak biasa. Tekun, ilmiah dan selalu turun tangan langsung di tanah.
Namanya Taufik, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu.
Di belakang rumahnya, terhampar kebun kecil yang menakjubkan. Di sana tumbuh durian, manggis, kurma hingga beberapa jenis buah langka yang ia sebut “buah dari timur mentoa”. Buah-buah eksotis yang jarang tumbuh di tanah Dompu. Semua tertata rapi, hijau dan sedang berbuah lebat.
“Setiap tanaman yang saya anjurkan ke petani, saya coba dulu di sini,” ujarnya sembari menunjuk pohon durian yang tengah berbuah.
“Kalau saya sendiri belum pernah mencobanya, bagaimana bisa saya memberi contoh kepada petani? Ilmu itu tidak boleh berhenti di teori. Harus diuji di tanah dengan tangan kotor.”
Bagi Taufik, kebun di belakang rumah bukan hanya ladang, tapi laboratorium hidup. Di sinilah ia menanam, meneliti dan mengamati perilaku setiap tanaman terhadap tanah vulkanik dan iklim lembap khas lereng Tambora.
Setiap kali mendapat ilmu baru dari pelatihan atau hasil studi, ia tidak buru-buru menyampaikan ke kelompok tani binaannya. Ia uji dulu di kebunnya sendiri.
“Kalau gagal di sini, berarti belum waktunya diajarkan ke petani. Tapi kalau berhasil, baru saya turunkan ilmunya. Saya yang ambil risikonya dulu, agar petani tidak perlu rugi waktu dan biaya,” tuturnya.
Cara kerja seperti ini jarang ditemukan. Banyak penyuluh hanya menjadi perantara program. Mengirim data, membuat laporan dan menyalurkan bantuan. Tapi Taufik memilih jalan berbeda, menjadi bagian dari petani itu sendiri. Ia tidak sekadar menginstruksikan, tapi memberi teladan.
Bagi Taufik, keberhasilan menanam buah tidak terletak pada jenis tanaman, melainkan pada kesabaran merawatnya.
“Menanam itu gampang. Tapi merawat, itu yang sulit. Banyak yang menyerah sebelum waktunya,” ujarnya.
TUMBUH SUBUR — Tanaman manggis ini tumbuh subur dan berbuah lebat di tangan dingin seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Kecamatan Pekat, Dompu. Inovasi dan ketekunan menjadi kunci keberhasilannya
Selain ketelatenan, ia juga percaya pada kekuatan inovasi. Ia kerap mencoba teknologi baru. Bahkan yang belum populer di Dompu. Baru-baru ini, ia berangkat ke Lombok Utara untuk mempelajari teknik kawin silang kurma, guna menciptakan varietas yang cocok dengan tanah dan iklim tropis basah Tambora.
Kini, hasil eksperimen itu sedang ia uji di kebunnya sendiri. “Kalau berhasil, baru saya terapkan di lahan petani binaan. Petani di sini harus belajar dari contoh nyata, bukan janji,” katanya.
Di tengah geliat jagung dan tebu sebagai komoditas andalan di lereng Tambora, Taufik menanam impian lain. Kurma Dompu.
Ia meyakini, lereng Tambora menyimpan potensi besar. Tanah vulkanik, udara lembap dan cahaya matahari sepanjang tahun. Semuanya mendukung pertumbuhan tanaman kurma yang adaptif.
“Kita punya lahan luas dan iklim yang pas. Kalau kurma bisa tumbuh di sini, nilainya jauh lebih tinggi. Bisa jadi ikon baru daerah,” ujarnya penuh semangat. Di matanya, terlihat kilau keyakinan bahwa cita-cita itu bukan hanya mimpi.
Dia memiliki keyakinan sederhana. Perubahan besar di pertanian Dompu tidak akan lahir dari proyek besar atau dana hibah, melainkan dari orang-orang kecil yang bekerja dengan hati besar.
“Petani itu bukan orang yang tidak bisa maju. Mereka hanya butuh contoh yang bisa mereka lihat dan percaya,” katanya.
Dari kebun kecil di Desa Kandidi Barat, Taufik menanam lebih dari sekadar pohon buah. Ia menanam masa depan dan harapan bagi pertanian Dompu.
Dari tanah Tambora, ia menunjukkan bahwa kemajuan bisa tumbuh dari ketulusan, dan perubahan bisa berawal dari satu kebun kecil di belakang rumah. (*)
![]()











