Penulis: Saudi Al Gibran
HUJAN sore itu turun pelan-pelan, seolah tak ingin mengganggu langkah para perempuan Desa Lanci Jaya, Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat yang datang membawa semangat baru. Satu per satu mereka memasuki sebuah rumah sederhana di pinggir jalan desa. Rumah yang kini menjadi pusat belajar PKBM Prima Edukasi.
Di halaman, hamparan sawah basah memantulkan warna hijau tua setelah diguyur hujan. Di dalam ruangan, kursi-kursi plastik tersusun rapi, ditempati sekitar 30 ibu rumah tangga yang duduk dengan sikap serius. Ruangan itu tidak luas, namun memiliki atmosfer yang hangat. Tempat di mana keterampilan baru, keberanian baru, dan harapan baru mulai tumbuh.
Di tempat sederhana itulah program Pendidikan Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan (PKHP) resmi dimulai. Pelatihan Tata Boga: Pembuatan Brownies Madu Kacang, hasil kerja sama Direktorat PMPK Dirjen Vokasi Kemendikbud Ristek RI dan PKBM Prima Edukasi Dompu. Kegiatan ini mulai digelar sejak Kamis, 13 November 2025 dan akan berlangsung selama 86 jam pelajaran.
Pesertanya adalah perempuan-perempuan yang selama ini hidup dengan rutinitas rumah tangga dan pekerjaan serabutan. Ada yang suaminya petani musiman. Ada pula yang hanya mengandalkan upah harian. Bagi mereka, pelatihan ini bukan sekadar belajar memasak, melainkan kesempatan untuk membuka pintu masa depan yang selama ini terasa samar.
Kabid Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Dompu, Muhammad Sadik, menegaskan harapan itu sejak awal.
“Peserta datang dengan kosong hari ini. Tapi sebulan ke depan mereka harus terampil dan menjadi individu yang mandiri,” ujarnya.
Ia mengingatkan, motivasi belajar harus datang dari diri sendiri, bukan sekadar formalitas karena dipanggil.
Dalam aturan program PKHP memang tidak disediakan peralatan. Namun Suharni, Kepala PKBM Prima Edukasi, memilih langkah berbeda. Bersama para pengelola secara swadaya ia menyiapkan berbagai perlengkapan yang nantinya akan dibagikan kepada peserta.
“Yang penting mereka mau belajar dan mengasah keterampilan,” ujar Suharni.
Pada akhir kegiatan nanti, peserta akan membawa pulang peralatan untuk menunjang kegiatan pembuatan kue. Bagi para perempuan ini, peralatan tersebut bukan hanya sekadar bingkisan melainkan modal awal untuk merintis usaha kecil dari rumah.
“Keluar dari sini, mereka tidak lagi memikirkan alat. Tinggal mempraktikkan keterampilan yang didapat,” ujar Suharni.
Sertifikat, Peluang, dan Mimpi Baru
Selain kemampuan membuat brownies madu kacang, peserta juga akan mendapatkan sertifikat kompetensi. Sertifikat ini dapat menjadi tiket untuk melamar pekerjaan di perusahaan pengolahan pangan, termasuk perusahaan besar seperti MBG.
Namun bagi Suharni, misi PKBM jelas: bukan hanya menyiapkan pekerja, tetapi mencetak wirausaha-wirausaha baru di Desa Lanci Jaya.
Ia ingin melihat para perempuan merintis usaha rumahan, menjadikan dapur mereka sebagai tempat produksi, dan membangun pendapatan dari hasil tangan sendiri. Beberapa peserta bahkan sudah mulai membicarakan ide produk mereka, dari camilan ringan hingga kue olahan madu khas Dompu.
Dukungan Pemerintah Desa: “Program Ini Nyata Manfaatnya”
Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Desa Lanci Jaya. Ia melihat sendiri antusiasme peserta, dan betapa pelatihan ini memberi ruang baru bagi perempuan desa.
“PKBM Prima Edukasi selama ini konsisten membina warga belajar. Kegiatan seperti ini sangat membantu masyarakat,” ujarnya.
Ia memastikan pemerintah desa akan mendukung program-program pemberdayaan seperti ini melalui alokasi dana desa agar bisa terus berlanjut setiap tahun.
Di luar, hujan sudah berhenti. Sawah terlihat semakin hijau dan langit mulai cerah. Dari balik jendela rumah itu, mata para perempuan tampak berbinar seolah menggambarkan perubahan kecil yang mulai tumbuh di hati mereka.
Karena bagi mereka, pelatihan ini bukan tentang brownies semata. Ini tentang keberanian untuk bermimpi.
Tentang perubahan yang dimulai dari sebuah ruangan kecil di pinggir sawah Desa Lanci Jaya.
Tentang perempuan yang memilih untuk bangkit dan memberdayakan diri. Dan di hari itu, di tengah semangat yang membara sebuah harapan baru lahir dengan tenang. (*)
![]()










