Kenangan almarhum, Sekjen PWI Pusat saat menyerahkan hadiah kepada H. Boy Mashudi sebagai juara lomba karaoke di Hotel Lombok Raya beberapa waktu lalu.
Begini nasib jadi wartawan. Ke mana-mana asalkan suka. Tiada orang yang melarang. Hati senang walau tak punya uang. Apa susahnya hidup wartawan? Setiap hari seolah bernyanyi. Tak pernah tampak bersedih. Hati senang walau tak punya uang. Oh.
Lirik sederhana malam itu terdengar ringan, bahkan mengundang tawa. Namun tak ada yang menyangka, nyanyian yang dilantunkan almarhum Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Zulmansyah Sukedang, saat acara pengukuhan pengurus PWI NTB di Hotel Lombok Raya beberapa bulan lalu, kini justru terasa begitu dalam seperti pesan perpisahan yang tak pernah diucapkan.
Malam itu, ia bukan sekadar pejabat organisasi. Ia adalah sahabat, penghibur, dan pengikat suasana. Dengan wajah ceria dan tawa lepas, ia mengajak para wartawan bernostalgia lewat lagu. Bahkan, ia menggelar lomba karaoke sederhana. Bukan dari anggaran resmi, melainkan dari kantong pribadinya. Ia ingin semua orang menikmati malam itu, tanpa sekat, tanpa beban.
Ia menilai sendiri, tertawa bersama, dan memberi semangat kepada siapa pun yang tampil. Malam itu terasa begitu hidup. Dan kini, kenangan itu justru menjadi sunyi.
Setiap pertemuan memang punya batas. Setiap tawa pada akhirnya akan menemukan jedanya. Dan kini, Zulmansyah telah lebih dulu melangkah pergi, meninggalkan ruang-ruang yang dulu ia isi dengan canda, semangat, dan kebersamaan.
Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang Sekjen. Ini kehilangan sosok yang hangat, yang mempersatukan, bekerja tanpa banyak bicara namun terasa dampaknya.
Dalam perjalanan panjangnya di Persatuan Wartawan Indonesia, ia dikenal bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi juga perekat yang hadir di tengah perbedaan dan berusaha menjadikannya satu.
Jejak pengabdiannya panjang. Dari memimpin PWI Riau selama dua periode, hingga menjadi bagian penting dalam mengakhiri dualisme kepengurusan PWI Pusat melalui Kongres Persatuan, ia ada di sana, di titik-titik penting organisasi.
Namun, di atas semua jabatan itu, yang paling membekas justru kesederhanaannya. Cara ia tertawa. Cara ia membuat orang lain merasa dekat.
Kini, suara itu telah tiada. Lagu itu tak lagi terdengar dari sosoknya. Tapi kenangannya akan terus hidup di ruang-ruang redaksi, di pertemuan-pertemuan sederhana, dan di hati mereka yang pernah merasakan kehangatannya.
Selamat jalan, Bang Zulmansyah. Nyanyianmu akan tetap kami dengar, dalam sunyi yang panjang. (*)
![]()










