Nampak sejumlah jamaah umrah PT. THU sedang melakukan manasik di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB, Senin (13/0/2026)
MATARAM – Komitmen PT. Taufik Haji dan Umrah (THU) dalam memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah tidak hanya ditunjukkan saat keberangkatan menuju Tanah Suci. Sejak menginjakkan kaki di Kota Mataram, para jamaah telah merasakan rangkaian pelayanan yang dirancang agar mereka berangkat dengan nyaman, tenang, dan memiliki bekal ilmu ibadah yang memadai.
Setibanya di Mataram, seluruh jamaah diinapkan di Hotel Prime Park. Fasilitas ini disiapkan agar jamaah dapat beristirahat dengan baik setelah menempuh perjalanan dari daerah asal sebelum memasuki tahapan penting berikutnya, yakni mengikuti manasik umrah di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB.
Bagi PT. THU, pelayanan kepada jamaah bukan sekadar mengurus tiket, hotel, atau transportasi. Yang lebih penting adalah memastikan setiap jamaah memahami tata cara ibadah sehingga mampu melaksanakan umrah dengan benar, khusyuk, dan penuh makna ketika berada di Tanah Suci.
Suasana manasik berlangsung penuh kekhusyukan. Sebanyak 50 orang jamaah memperhatikan setiap arahan yang disampaikan para pembimbing. Mereka tidak hanya diajarkan tata cara ibadah, tetapi juga dibekali berbagai pengalaman praktis yang sangat berguna selama berada di Makkah dan Madinah.
Pengurus Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB, H. Islam Israil, mengapresiasi PT. THU yang menjadikan pembekalan ibadah sebagai bagian penting dalam pelayanan kepada jamaah.
Menurutnya, kesempatan berada di Tanah Suci merupakan nikmat yang luar biasa sehingga harus dimanfaatkan sepenuhnya untuk memperbanyak ibadah.
“Perjalanan ini hanya sekitar 15 hari. Gunakan waktu sebaik-baiknya untuk beribadah. Jaga kesehatan agar seluruh rangkaian ibadah bisa dijalankan dengan optimal. Jangan sampai waktu lebih banyak dihabiskan untuk berjalan-jalan. Memang di sana pusat perbelanjaannya besar-besar, tetapi tujuan utama kita adalah memenuhi panggilan Allah,” pesannya.
Ia juga mengingatkan jamaah agar selalu bepergian bersama rombongan dan tidak berjalan sendiri, terutama ketika berada di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi.
“Kemana pun usahakan bersama rombongan. Jangan sendiri-sendiri agar tidak mudah tersesat,” ujarnya.
Selain itu, ia membagikan sejumlah pengalaman praktis yang sering luput diperhatikan jamaah.
Ia menyarankan jamaah memperbanyak minum air zamzam, namun tidak dalam kondisi terlalu dingin agar kesehatan tetap terjaga selama menjalankan ibadah.
Ia juga mengingatkan jamaah agar menyelesaikan keperluan ke kamar kecil sebelum menuju Masjidil Haram.
“Pastikan semuanya sudah selesai sebelum berangkat ke masjid. Karena fasilitas kamar kecil di sekitar Masjidil Haram cukup jauh. Jangan sampai ibadah terganggu karena hal-hal seperti ini,” katanya.
H. Islam Israil juga menyampaikan pentingnya datang ke Masjidil Haram lebih awal.
“Kalau ingin mendapatkan tempat yang nyaman untuk salat, usahakan sudah berada di masjid sekitar satu jam sebelum waktu salat. Biasanya jamaah sudah sangat ramai.”
Hal lain yang tidak kalah penting adalah mengenali pintu masuk Masjidil Haram.
Menurutnya, banyak jamaah pemula yang kesulitan kembali ke titik pertemuan karena lupa nomor dan nama pintu yang digunakan saat masuk.
“Semua pintu hampir terlihat sama. Karena itu, ingat baik-baik nomor dan nama pintunya. Kalau lupa, bisa kesulitan mencari jalan keluar ataupun kembali bertemu rombongan.”
Ia pun mengajak seluruh jamaah memperbanyak doa selama berada di Tanah Suci.
“Jangan sia-siakan kesempatan menjadi tamu Allah. Perbanyak doa untuk diri sendiri, keluarga, orang tua, dan bangsa. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama.”
Sementara itu, Ustadz Zulkarnain, S.Pd.I., M.Pd, dalam materi manasik menjelaskan bahwa umrah bukan sekadar perjalanan ke luar negeri, melainkan perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ia mengajak jamaah meluruskan niat semata-mata karena Allah serta menjaga akhlak selama berada di Tanah Suci.
“Ibadah umrah adalah kesempatan membersihkan hati dan memperbaiki diri. Karena itu, niat harus benar, hati dijaga, lisan dijaga, dan setiap kesempatan digunakan untuk memperbanyak ibadah,” jelasnya.
Menurutnya, keberhasilan umrah bukan diukur dari banyaknya tempat yang dikunjungi, tetapi dari perubahan diri setelah kembali ke tanah air.
Pada sesi praktik manasik, jamaah mendapatkan bimbingan langsung dari Direktur PT. Taufik Haji dan Umrah (THU), Taufik, S.H, yang memiliki pengalaman panjang mendampingi jamaah serta pernah bermukim di Tanah Suci.
Dengan penuh kesabaran, ia mempraktikkan seluruh rangkaian ibadah umrah mulai dari niat ihram, tata cara memasuki Masjidil Haram, thawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran, cara memberikan penghormatan kepada Hajar Aswad sesuai tuntunan syariat, pelaksanaan salat di belakang Maqam Ibrahim apabila memungkinkan, meminum air zamzam, hingga tata cara sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali perjalanan.
Tak hanya itu, jamaah juga dibimbing mengenai tahapan tahallul sebagai penutup rangkaian umrah beserta berbagai kondisi yang sering dihadapi jamaah saat berada di tengah padatnya aktivitas di Masjidil Haram.
Selama praktik berlangsung, para jamaah terlihat antusias mengikuti setiap arahan. Mereka diberikan kesempatan bertanya secara langsung mengenai berbagai persoalan yang kemungkinan ditemui ketika berada di Makkah maupun Madinah.
Melalui rangkaian pelayanan yang dimulai dari penyediaan akomodasi yang nyaman, pembinaan spiritual, hingga praktik manasik yang detail, PT. Taufik Haji dan Umrah menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan pelayanan yang menyeluruh kepada jamaah.
Persiapan yang matang tersebut diharapkan membuat setiap jamaah tidak hanya berangkat dengan rasa nyaman, tetapi juga memiliki bekal ilmu, kesiapan fisik, dan ketenangan hati sehingga mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah umrah secara sempurna dan meraih umrah yang mabrur. (di)
![]()










