Pertandingan persahabatan antara tim PWI NTB melawan Polda NTB berlangsung penuh semangat dan suasana kekeluargaan. Laga yang digelar pada malam hari itu menjadi ajang mempererat silaturahmi sekaligus membangun kebersamaan di luar aktivitas kerja sehari-hari.
Laporan : Saudi – Kota Mataram
LAMPU-LAMPU stadion mulai menyala saat malam turun di Kota Mataram. Cahaya putih memantul di rumput hijau Lapangan Kosta Sport Hub.
Di pinggir lapangan, obrolan ringan, tawa, dan saling sapa antara wartawan dan jajaran Polda NTB terdengar lebih dominan daripada aroma kompetisi.
Awalnya, banyak yang mengira ini hanya pertandingan persahabatan biasa. Namun begitu peluit dibunyikan, suasananya berubah.
Saya berdiri di lapangan dengan satu pikiran sederhana. Jangan sampai kebobolan terlalu cepat.
Di seberang, sosok Kapolda NTB, Irjen Pol. Kalingga Rendra Raharja, berdiri di lini depan. Tidak banyak gestur. Tidak banyak bicara.
Tapi dari cara berdiri dan tatapan matanya, terlihat beliau datang bukan hanya untuk berfoto atau menjalankan seremoni. Beliau datang untuk bermain.
Dan beberapa menit setelah pertandingan dimulai, saya sadar satu hal. Ini tidak akan mudah.
Babak pertama berjalan cukup mengejutkan. Tim wartawan tampil percaya diri. Umpan-umpan pendek berjalan. Serangan dibangun rapi. Bahkan skor sempat berpihak kepada kami, unggul 4–2.
Saya sendiri mendapat tugas sebagai center back. Tugas yang di atas kertas terdengar sederhana. Menjaga pergerakan striker.
Masalahnya, striker yang saya hadapi malam itu bukan tipe pemain yang berdiri menunggu bola. Pak Kapolda bergerak terus.
Beliau mencari ruang, membuka celah, berlari tanpa bola, lalu tiba-tiba muncul di posisi yang tidak terduga.
Beberapa kali saya mencoba menempel ketat. Ketika bola datang, saya pikir masih bisa diantisipasi.
Ternyata terlambat. Satu langkah. Dua langkah. Lalu beliau sudah lebih dulu berada di depan. Saya sempat adu sprint mengejar bola. Hasilnya? Gagal.
Yang paling terasa bukan hanya kecepatannya, tapi konsistensinya. Nafas tetap panjang. Tempo tetap tinggi. Dari menit awal sampai peluit akhir babak kedua, intensitas permainannya nyaris tidak turun.
Gocekannya cepat. Gerakan tanpa bolanya hidup. Tendangannya keras.
Dan yang membuat sulit dijaga, beliau paham kapan harus menunggu dan kapan menyerang ruang kosong.
Di pinggir lapangan terdengar teriakan saling memberi instruksi. Pertandingan yang awalnya cair berubah menjadi kompetitif. Tapi tetap hangat. Tidak ada tensi berlebihan. Tidak ada gestur emosional.
Hanya orang-orang yang sedang menikmati permainan.
Lalu datang babak kedua. Polda NTB mulai mengubah pola permainan.
Umpan lebih rapi. Transisi lebih cepat. Organisasi permainan mulai terlihat. Serangan demi serangan datang.
Perlahan skor berubah. Dari tertinggal. Menjadi imbang. Lalu berbalik.
Sampai akhirnya papan skor berhenti di angka 9–5 untuk kemenangan Polda NTB.
Dan di antara gol-gol yang tercipta, Pak Kapolda ikut mencatatkan namanya beberapa kali.
Usai pertandingan, keringat masih mengalir. Nafas masih berat. Tapi yang terasa bukan rasa kalah. Yang terasa justru keakraban.
Di luar lapangan, jabatan memang ada. Seragam memang berbeda. Tetapi selama satu pertandingan itu, semua menjadi pemain.
Usai laga, Kapolda NTB menyampaikan bahwa pertandingan ini bukan soal menang atau kalah, melainkan ruang untuk mempererat silaturahmi antara kepolisian dan insan pers di Nusa Tenggara Barat.
Beliau mengapresiasi semangat para wartawan yang sempat unggul di babak pertama sebelum tim Polda melakukan perubahan strategi dan membalikkan keadaan.
Lebih dari itu, beliau berharap kegiatan semacam ini terus dilakukan sebagai ruang kolaborasi yang lebih cair antara pers, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan seluruh elemen masyarakat menjelang berbagai agenda besar olahraga di NTB, termasuk persiapan menuju PON 2028.
Dukungan itu juga diperkuat untuk pelaksanaan Porwada PWI NTB yang akan digelar akhir Juni nanti.
Ketua PWI NTB, Ahmad Ikliluddin juga ikut bermain di babak kedua dan nyaris mencetak gol. Ia menyebut pertandingan ini bukan hanya olahraga, tetapi simbol hubungan yang selama ini terbangun baik antara insan pers dan Polri.
Bagi wartawan sendiri, pertandingan itu menjadi pemanasan yang sempurna jelang Porwada 26 sampai 28 Juni 2026 mendatang. (*)
![]()









