H. Nasir wartawan senior dari PWI Kabupaten Bima. Atlet peraih medali emas Porwanas Kalimantan Selatan 2024.
Profesi wartawan hari ini tak hanya diuji oleh kecepatan, tetapi juga kemampuan menjaga rasa sebagai sesama. Di tengah dunia yang makin sibuk mengejar layar dan algoritma, Porwada PWI NTB 2026 menjadi ruang singkat untuk kembali berkumpul dan menemukan rumah bernama persaudaraan.
SAUDI – KOTA MATARAM
SORE itu, Jumat, 26 Juni 2026, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang arena pertandingan Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Porwada) PWI NTB di Sport Center Universitas Mataram (Unram). Pintu mobil terbuka perlahan, menyisakan derit kecil sebelum seorang pria berusia 64 tahun turun dengan langkah yang masih terjaga.
Namanya H. Nasir. Kopiah putih melekat di kepalanya. Berpadu dengan jaket hitam menyelimuti tubuh yang tetap tegak menjalani hari. Usia telah membuat penglihatannya tak setajam dahulu. Karena itu, kacamata menjadi teman setia membantu matanya membaca dan meneruskan aktivitas.
Tangan kirinya menjinjing tas kecil berisi papan catur. Grip kayunya mulai terkelupas. Papan itu bukan hanya alat permainan. Ia adalah saksi bisu dari ribuan strategi, benturan ego, dan keheningan yang pernah ia susun di atas petak hitam-putih selama puluhan tahun menjadi jurnalis.
Perjalanan H. Nasir menuju arena ini adalah sebuah epilog tentang keteguhan. Sehari sebelumnya, ia memulai pengembaraan dari rumahnya di Kecamatan Wawo, sebuah wilayah yang terletak di ujung timur Kabupaten Bima.
Mengendarai sepeda motor selepas Subuh, ia menyusuri jalan berkelok yang membelah perbukitan timur Bima. Menanjak, menurun, dan meliuk seperti ular di antara lereng. Rintik hujan sesekali turun, membasahi perjalanan panjang yang tak membuatnya mengurangi kecepatan laju kendaraan.
Setelah tiba di Kecamatan Woha, pusat pemerintahan Kabupaten Bima, ia menyatu dengan rombongan wartawan untuk melanjutkan perjalanan darat menuju ujung barat Pulau Sumbawa. Dari sana, perjalanan berlanjut menyeberangi Selat Alas dengan kapal feri dari Pelabuhan Poto Tano menuju Kayangan.
Hampir 15 jam ia menempuh jalur darat dan laut demi satu tujuan yang barangkali terdengar sederhana. Namun, saat ditanya apa yang ia cari di usia senja hingga rela menempuh perjalanan sejauh itu? Jawabannya melampaui sekadar hobi atau ambisi medali.
“Kalau bukan sekarang, entah kapan lagi bisa kumpul begini,” ujarnya lirih, matanya menerawang menembus keriuhan atlet yang mulai memadati Sport Center Unram.
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan kalimat yang menggetarkan, “Saya cuma takut kalau saya berhenti, anak-anak muda ini lupa kalau kita ini saudara, bukan cuma saingan cari berita.”
Kalimat itu terdengar bersahaja, namun di balik matanya yang memerah karena kurang tidur, tersimpan sebuah kerinduan yang akut. Sebuah kerinduan akan keluarga besar wartawan yang kini perlahan mulai tercerai-berai oleh ego algoritma, tekanan clickbait, dan kerasnya disrupsi digital.
Ruang Pulang di Tengah Serangan Klik
Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Porwada) PWI NTB yang berlangsung 26–28 Juni 2026 ini bukan tentang turnamen fisik atau pembuktian siapa yang paling tangguh di lapangan. Bagi jurnalis di daerah, ajang tiga tahunan ini adalah sebuah “Ruang Pulang”.
Di sini, kasta media luruh seketika. Di lapangan futsal atau sepak bola mini, para wartawan senior mengejar bola dengan napas tersengal-sengal, lalu tertawa terbahak-bahak saat kaki mereka tak sengaja bersinggungan dengan rumput sintetis.
Di meja pingpong, jurnalis politik yang biasanya kaku dan formal di ruang konferensi pers berubah menjadi “monster” yang agresif, berteriak kegirangan setiap kali pukulan smash-nya menghasilkan poin.
Di sisi lain arena, jurnalis generasi Z tenggelam dalam layar gawai. Mereka saling bersahut dengan instruksi cepat dan istilah-istilah permainan yang tak akrab di telinga H. Nasir, seolah sedang berbicara dalam bahasa dari generasi yang berbeda.
Namun di tempat lain, perbedaan generasi itu menguap begitu saja. Musik menjadi jembatan. Melalui lomba karaoke, lagu-lagu dangdut dinyanyikan bersama, melintasi batas usia antara wartawan senior dan anak muda.
Di bawah kepulan asap rokok dan aroma kopi yang tak pernah putus di sekitar kantin Unram, mereka bicara tentang segalanya. Mereka tidak sedang merancang investigasi besar, melainkan membagikan kisah-kisah manusiawi.
Dari drama liputan banjir di Bima yang merendam peralatan liputan, hingga perjuangan mencari sinyal internet di pelosok terjal Dompu demi mengirimkan satu berita deadline. Disana tidak ada perlombaan memperebutkan perhatian pembaca maupun tekanan mengejar performa digital.
Melawan Trauma, Merajut Martabat
H. Nasir tampak serius ketika bermain papan catur. Ia kembali mengikuti seleksi dalam ajang Porwada PWI NTB.
Semangat yang membuncah di Porwada 2026 ini tidak tumbuh dari ruang hampa. Ada luka kolektif yang mendalam dari tahun 2022 di Malang saat pelaksanaan Porwanas (Pekan Olahraga Wartawan Nasional). Kala itu, kontingen NTB pulang hampir tanpa cerita, hanya membawa satu medali perunggu. “Kami seperti datang hanya untuk meramaikan. Rasanya pedih,” kenang H. Nasir.
Namun, kekalahan telak itu justru menjadi titik balik. Di sela ritme liputan yang kian cepat dan notifikasi yang nyaris tak pernah berhenti, wartawan NTB mulai berbenah. Raket badminton ikut terbawa di bagasi mobil liputan, sementara sepatu futsal selalu siap di samping tas kamera dan laptop. Menunggu jeda singkat di antara deadline, siaran langsung, dan unggahan berita yang harus segera tayang.
Hasil dari keringat yang bercampur tinta itu terlihat nyata pada Porwanas XIV Kalimantan Selatan tahun 2024. Kontingen NTB melonjak drastis, menggebrak panggung nasional dengan koleksi 15 medali: 4 emas, 2 perak, dan 9 perunggu. Raihan menakjubkan tersebut menempatkan PWI NTB pada peringkat tiga nasional, tepat di bawah raksasa tuan rumah Kalimantan Selatan dan Jawa Barat.
Banyak pihak di tingkat nasional yang tidak percaya. Provinsi yang selama ini dipandang sebelah mata justru menjelma menjadi kekuatan baru. Di arena Kalsel saat itu, tangis haru pecah. Paman Ancus, seorang wartawan senior dari Pulau Sumbawa, bahkan rela merogoh kocek pribadi hingga belasan juta rupiah untuk memberikan bonus spontan bagi para peraih medali. Bukan karena ia berlebih harta, tapi karena ia tahu betapa mahalnya sebuah harga diri yang berhasil direbut kembali.
Zulkarnain, sang peraih medali emas cabang atletik, merangkum perasaan kolektif itu dengan getir namun bangga.
“Selama ini kami selalu menulis kemenangan orang lain. Menulis pejabat yang juara, menulis atlet yang sukses. Baru kali itu kami merasakan bagaimana rasanya nama kami sendiri yang ditulis sebagai pemenang.”
Bagi H. Nasir sendiri, Porwanas Kalsel 2024 adalah puncak dari kesetiaannya pada profesi ini. Medali emas catur yang ia raih saat itu adalah yang pertama sepanjang sejarahnya mengikuti Porwanas sejak resmi menjadi wartawan pada tahun 1986.
Namun, jalan menuju momen itu tidak terbentang mudah. Sebelum berangkat ke Kalimantan Selatan, ia lebih dulu berhadapan dengan kenyataan yang tidak sederhana. Yakni, keterbatasan anggaran dari PWI Bima.
Di tengah situasi itu, pilihannya hanya dua. Mengurungkan niat atau tetap melangkah. Ia memilih yang kedua. Sebab tekad yang sudah tumbuh lama tak mudah dipatahkan oleh hitungan biaya di atas kertas.
H. Nasir mengumpulkan biaya pribadi demi membiayai keberangkatannya sendiri, lalu menumpang rombongan PWI Dompu agar bisa sampai ke medan laga.
H. Nasir masih mengingat momen ketika namanya dipanggil. Langkahnya menuju podium terasa ringan. Saat medali dikalungkan, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak langsung berbicara. Ia hanya menunduk beberapa saat sambil menggenggam erat medali itu.
Dalam benaknya, perjalanan panjang, biaya pribadi yang ia keluarkan, dan puluhan tahun menunggu akhirnya menemukan jawaban. “Perjuangan yang berdarah-darah itu akhirnya membuahkan hasil,” ucapnya dengan senyum tipis.
Ia ingin semangat dan kerja kerasnya menjadi cambuk bagi wartawan muda di NTB. Di usianya yang senja, ia memposisikan dirinya sebagai mercusuar kecil. Memberikan contoh nyata bahwa sebuah perjuangan yang konsisten akan memberikan hasil yang maksimal.
Menjaga Nyala di Balik Tekanan Disrupsi
Di balik gemerlap prestasi dan tawa di lapangan, kehidupan nyata wartawan daerah sebenarnya tidak pernah benar-benar baik-baik saja. Sebagian besar dari mereka hidup dalam tekanan ekonomi dan psikologis yang nyaris tak terlihat oleh publik.
Pagi hari meliput aksi demonstrasi atau konflik lahan. Siang mengejar narasumber yang kerap menghindar. Sore hari berkejaran dengan waktu menulis berita. Lalu esok hari, siklus yang melelahkan itu kembali diulang.
Honor tidak selalu besar, bahkan sering kali tidak menentu. Fasilitas kerja minim, sementara tuntutan kecepatan media digital memaksa mereka bekerja lebih cepat dari mesin. Belum lagi tekanan media sosial, tuntutan agar berita menjadi viral, dan banjir informasi hoaks yang sering kali mengorbankan fungsi verifikasi jurnalisme yang suci.
Di tengah situasi yang serbacepat itu, egoisme institusional kerap muncul. Solidaritas antarsesama wartawan di lapangan perlahan ikut memudar. Ruang redaksi fisik mengecil digantikan grup WhatsApp, dan waktu untuk sekadar duduk bersama nyaris hilang. Wartawan di era modern lebih sering menatap layar telepon genggam mereka sendiri dibanding berbicara dari hati ke hati dengan rekan sejawatnya.
Karena itulah, Porwada NTB 2026 yang diikuti oleh sekitar 300 peserta dan official dari delapan kabupaten/kota, mulai Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima, hingga Kota Bima, terasa begitu sakral.
Di sebuah penginapan sederhana di Kota Mataram pada Jumat malam, H. Nasir tampak duduk berkumpul bersama beberapa wartawan muda dari Lombok Timur, Dompu dan Bima. Gelas kopi yang mulai dingin menghiasi meja kecil di depan mereka.
Mereka tertawa lepas, membahas pengalaman liputan paling konyol hingga yang paling berbahaya. Sesekali terdengar ejekan jenaka soal pertandingan tenis meja sore tadi, menyindir rekan mereka yang napasnya terseok-seok di set kedua.
Malam semakin larut di Kota Mataram, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang terburu-buru untuk tidur. H. Nasir memandang wajah teman-temannya satu per satu dengan tatapan hangat, sebelum akhirnya berkata pelan.
“Beginilah yang dulu paling sering kita rasakan di organisasi ini. Sekarang, suasana kekeluargaan seperti ini sudah jarang kita temukan di lapangan.”
Tidak ada yang langsung menjawab. Keheningan menyergap sesaat. Sebab, semua yang berada di ruangan itu tahu bahwa dunia wartawan telah berubah secara drastis. Dan mungkin, Porwada adalah satu dari sedikit benteng terakhir yang masih menjaga rasa persaudaraan dan kemanusiaan itu tetap hidup.
Sasambo dan Ikhtiar Menuju Lampung 2027
Kini, setelah Porwada PWI NTB 2026 resmi bergulir melalui seremonial pembukaan yang meriah di Sport Center Unram, mata dan energi para wartawan NTB mulai diarahkan ke cakrawala yang lebih luas. Porwanas di Lampung pada tahun 2027 mendatang.
Target mereka tidak lagi main-main. Setelah berhasil menembus tiga besar nasional di Kalimantan Selatan, NTB ingin membuktikan bahwa prestasi tersebut bukanlah sebuah kebetulan atau keberuntungan magis belaka. Latihan-latihan mandiri mulai disusun lebih serius di tingkat kabupaten/kota, cabang-cabang olahraga unggulan mulai dipetakan secara sains, dan semangat baru menjalar di tubuh organisasi. Mereka tidak lagi datang ke ajang nasional hanya sebagai pelengkap absensi. Mereka datang sebagai petarung yang disegani.
Ketua PWI NTB, Ahmad Ikliluddin, saat membuka acara menegaskan optimisme tersebut. “Melalui Porwada PWI NTB 2026 ini, kita tidak hanya berkompetisi, melainkan juga melakukan scouting untuk menjaring potensi terbaik. Kita siap melahirkan atlet-atlet jurnalis tangguh yang akan mengibarkan bendera NTB di Porwanas Lampung 2027,” tegasnya di hadapan ratusan jurnalis.
Dukungan pun mengalir dari berbagai lini strategis. Kepala Dinas Kominfotik NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, yang hadir mewakili Gubernur NTB, mengingatkan kembali bahwa pers adalah komponen sejarah bangsa yang strategis.
“Olahraga ini adalah solusi tepat untuk meningkatkan soliditas di tengah tekanan profesi. Olahraga bukan hanya mencari medali, melainkan semangat untuk hidup sehat. Dari tubuh yang sehat, akan melahirkan pikiran yang suci untuk mengawal pembangunan menuju NTB Makmur Mendunia,” ujar Ahsanul.
Apresiasi senada juga ditekankan oleh Asisten I Setda Kota Mataram, H. Lalu Martawang, yang bangga Ibu Kota Provinsi menjadi pusat silaturahmi akbar ini, serta Wakil Rektor II Unram, Prof. Akmaludin, yang memastikan fasilitas kampus siap mendukung penuh jalannya kompetisi.
Namun, momen paling puitis dari pembukaan siang itu adalah ketika dilakukan prosesi seremonial penyatuan mata air kehidupan dari tiga suku besar di NTB. Sasak, Samawa, dan Mbojo (Sasambo). Air yang diambil dari tiga bumi yang berbeda itu dituangkan ke dalam satu wadah yang sama.
Itu adalah simbol yang kuat. Bahwa di atas petak catur H. Nasir, di lintasan lari Zulkarnain, maupun di balik kamera para jurnalis foto, ego kedaerahan dan sekat-sekat media telah melebur.
Mungkin di Lampung 2027 nanti, mereka akan kembali membawa pulang trofi dan medali emas. Mungkin juga tidak. Namun bagi H. Nasir dan ratusan jurnalis yang bertanding di Mataram pekan ini, mereka telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada logam mulia di podium. Sebuah alasan dan ruang untuk tetap berjalan bersama sebagai saudara.
Sebab pada akhirnya, Porwada NTB 2026 adalah kisah tentang orang-orang yang setiap hari sibuk menulis sejarah dan kejayaan orang lain, namun kali ini, mereka memilih berhenti sejenak untuk merayakan dan menjaga nyala api perjuangan mereka sendiri. (*)
![]()








