Bandara Amman Mineral Poto Tano dibangun dengan investasi sekitar Rp390 miliar oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN).
Bukan sekadar beton dan bentangan aspal. Landasan pacu baru senilai Rp390 miliar yang dibangun PT AMMAN di Poto Tano menjadi penanda terbukanya konektivitas Sumbawa Barat. Dari sini, arus orang, barang, investasi, hingga wisatawan diharapkan bergerak lebih cepat, membawa peluang baru bagi ekonomi dan pariwisata daerah.
SAUDI — TAMBORA POST
Pagi belum sepenuhnya beranjak di Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat. Angin pesisir bergerak di atas kawasan bandara, sementara landasan pacu sepanjang 2.100 meter membentang di tengah hamparan lahan.
Di Desa Kiantar, Kecamatan Poto Tano, fasilitas itu sekilas tampak seperti bandara pada umumnya. Namun, bagi Sumbawa Barat, kehadirannya menyimpan cerita yang jauh lebih panjang, tentang konektivitas, peluang ekonomi, dan harapan baru bagi pariwisata daerah.
Bandara Amman Mineral Poto Tano dibangun dengan investasi sekitar Rp390 miliar oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN). Pembangunan dimulai pada akhir 2022 dan konstruksinya rampung pada 2025.Di atas lahan sekitar 72 hektar, bandara tersebut pada awalnya dirancang untuk mendukung kebutuhan operasional AMMAN, terutama mobilitas pekerja dan kegiatan perusahaan di wilayah tambang.
Namun, sebuah infrastruktur dengan nilai investasi sebesar itu sulit dipisahkan dari konteks wilayah tempatnya berdiri.
Di Sumbawa Barat, persoalan konektivitas selama bertahun-tahun menjadi salah satu tantangan dalam menggerakkan ekonomi. Akses dari dan menuju daerah ini lebih banyak mengandalkan jalur laut dan darat. Untuk mencapai penerbangan komersial, masyarakat masih bergantung pada bandara di wilayah lain.
“Kalau ada urusan mendesak ke Bali, dulu kami harus menyeberang laut terlebih dahulu untuk menuju Bandara Lombok. Sekarang, dengan adanya bandara di sini, semuanya tentu menjadi lebih mudah dan cepat. Kami berharap bandara ini segera beroperasi,” ujar Ardianto, salah seorang pengusaha di Poto Tano.
Dalam pembangunan wilayah, konektivitas kerap menjadi faktor yang tidak terlihat, tetapi menentukan.
Jarak bukan hanya diukur dalam kilometer. Ia juga diukur dari waktu tempuh, biaya perjalanan, kemudahan mobilitas, dan seberapa cepat orang maupun barang dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Bagi dunia usaha, konektivitas memengaruhi keputusan investasi. Bagi wisatawan, akses menjadi bagian dari keputusan perjalanan. Bagi pelaku UMKM, pasar yang lebih jauh baru bisa dijangkau ketika tersedia jalur distribusi yang efisien.
Karena itu, Bandara Amman Mineral Poto Tano memiliki kemungkinan untuk memainkan peran yang lebih luas daripada fungsi awalnya sebagai fasilitas pendukung operasi perusahaan.
Ia dapat menjadi salah satu simpul yang mempertemukan manusia, barang, jasa, investasi dan wisata.

Kini, potensi tersebut mulai mendapat perhatian pemerintah daerah.
Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal menilai keberadaan bandara itu dapat memperkuat konektivitas wilayah sekaligus membuka peluang baru bagi perdagangan dan pariwisata di Pulau Sumbawa.
Saat meninjau bandara tersebut, Iqbal melihat peluang untuk membuka hubungan ekonomi yang lebih luas, termasuk dengan Jawa Timur.
“Selama ini rutenya hanya ke Denpasar dan ke Lombok. Padahal jika dilihat dari integrasi ekonomi, lebih banyak kita berhubungan ekonomi dan perdagangan itu dengan Surabaya, Jawa Timur,” kata Iqbal.
Menurut dia, terbukanya konektivitas dengan Surabaya dapat menjadi pintu masuk bagi pertukaran perdagangan antara NTB dan Jawa Timur.
Pandangan itu memperlihatkan bahwa fungsi sebuah bandara tidak berhenti pada aktivitas penerbangan. Di belakangnya terdapat kemungkinan terbentuknya jaringan ekonomi baru.
Menunggu Penerbangan Komersial
Saat ini Bandara Amman Mineral Poto Tano masih berstatus bandara khusus dan belum melayani penerbangan komersial secara reguler.
Namun, sejumlah fondasi untuk pengoperasian telah disiapkan.
Pada 2025, proses sertifikasi penerbangan dan publikasi informasi aeronautika atau Aeronautical Information Publication (AIP) telah diperoleh. AMMAN juga menyiapkan sumber daya manusia untuk menjalankan fasilitas tersebut.
Sebanyak 27 tenaga kerja lokal telah tersertifikasi, termasuk personel Air Traffic Control (ATC).
Gubernur NTB melihat kesiapan itu sebagai modal penting. “Saya baru cek, ATC-nya sudah punya orang-orang yang sudah tersertifikasi untuk menjalankan ATC itu,” ujarnya.
Menurut Iqbal, proses kalibrasi dan izin khusus bandara juga telah diperoleh. Tantangan berikutnya adalah menyelesaikan izin agar bandara dapat dimanfaatkan oleh maskapai komersial.
“Bandara ini kan sudah terdaftar, tinggal kita pikirkan model bisnisnya saja. Agar keberadaannya lebih optimal,” kata dia.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa membangun bandara merupakan satu tahap, sedangkan menghidupkan ekosistem penerbangannya adalah tahap yang berbeda.
Landasan pacu yang panjang tidak otomatis membuat pesawat datang. Diperlukan rute, maskapai, penumpang, kepastian pasar, serta model bisnis yang mampu membuat penerbangan berkelanjutan.
Di titik inilah pemerintah, pengelola bandara, AMMAN dan dunia usaha memiliki pekerjaan bersama.
Pariwisata Menunggu Pintu Masuk
Sumbawa Barat memiliki modal wisata yang tidak sedikit. Bentang alam pesisir, pulau-pulau kecil, kawasan pantai dan kekayaan sosial budaya masyarakat merupakan potensi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.
Namun, potensi tidak selalu berbanding lurus dengan kunjungan. Salah satu persoalan yang kerap muncul adalah akses.
Bagi investor hotel dan resor, konektivitas menjadi bagian dari perhitungan bisnis. Bagi wisatawan, waktu dan kemudahan perjalanan ikut menentukan pilihan destinasi.
Karena itu, pengembangan Bandara Amman Mineral Poto Tano dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih besar. Membuka pintu bagi pasar wisata yang selama ini sulit menjangkau Sumbawa Barat.
Bukan berarti bandara dengan sendirinya akan membuat pariwisata tumbuh. Bandara hanyalah pintu masuk.
Di belakang pintu itu harus tersedia destinasi yang terawat, akomodasi, transportasi, kuliner, produk lokal, tenaga kerja yang siap, serta tata kelola pariwisata yang tidak mengorbankan lingkungan dan masyarakat.
Di sinilah gagasan pariwisata berkelanjutan menjadi penting. AMMAN sendiri menempatkan pariwisata berkelanjutan sebagai salah satu pilar dalam program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), bersama pengembangan sumber daya manusia dan pemberdayaan ekonomi.
Dengan kerangka itu, konektivitas udara dapat menjadi bagian dari rantai yang lebih panjang.
Wisatawan datang. Pelaku hotel mendapat pasar. Restoran memperoleh pelanggan. Produk UMKM mendapat ruang. Pemandu wisata memperoleh pekerjaan. Transportasi lokal bergerak.
Jika ekosistem itu terbentuk, manfaat sebuah bandara dapat menjalar jauh melampaui pagar fasilitas penerbangan.
Hotel dan Pemerintah Mulai Menghitung Pasar

Peluang tersebut mulai dibicarakan secara lebih konkret oleh pemerintah daerah dan pelaku usaha.
Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah melihat konektivitas udara sebagai salah satu kunci untuk membuka peluang baru bagi pariwisata, perhotelan, perdagangan dan investasi.
Dalam diskusi bersama West Sumbawa Hotel Association (WSHA) di Bandara AMMAN Poto Tano, pemerintah daerah bersama pengelola bandara, investor dan pelaku usaha perhotelan membahas kesiapan pemanfaatan bandara dan peluang penerbangan komersial.
Amar menyebut tahapan perizinan telah berjalan dan berada pada proses finalisasi keputusan di Kementerian Perhubungan.
Pemerintah daerah bahkan memasang target agar penerbangan perdana dapat hadir bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kabupaten Sumbawa Barat pada 20 November.
“Target kita pada 20 November, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kabupaten Sumbawa Barat, sudah ada pesawat yang landing,” kata Amar.
Tetapi target tersebut tidak hanya membutuhkan keputusan administratif. Ada persoalan pasar yang harus dijawab.
Karena itu, pemerintah daerah mengajak pelaku usaha perhotelan ikut menghitung potensi keterisian penumpang. Data tersebut diperlukan sebagai bahan untuk meyakinkan maskapai bahwa penerbangan menuju Sumbawa Barat memiliki pasar.
Penerbangan dapat dimulai dengan pesawat berkapasitas lebih kecil untuk membangun pasar, sebelum kemudian berkembang mengikuti pertumbuhan permintaan.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan bandara bukan akhir dari sebuah proyek pembangunan. Justru setelah konstruksi selesai, proses yang lebih kompleks dimulai, membangun permintaan.
Rp390 Miliar dan Pertanyaan tentang Dampak
Nilai investasi Rp390 miliar tentu bukan angka kecil. Tetapi nilai sebuah infrastruktur pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal yang ditanamkan. Ukuran yang lebih penting adalah dampak yang muncul setelahnya.
AMMAN menempatkan pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi dan pariwisata berkelanjutan sebagai bagian dari prioritas inisiatif dampak sosial perusahaan.
Pembangunan bandara memang bukan pengeluaran Departemen Dampak Sosial AMMAN. Namun, keberadaan fasilitas tersebut memiliki keterkaitan dengan upaya memperkuat pembangunan jangka panjang di wilayah operasi perusahaan, terutama melalui konektivitas.
Di sinilah investasi fisik bertemu dengan pembangunan ekonomi. Satu landasan pacu dapat membuka perjalanan yang lebih panjang. Dari pesawat menuju wisatawan, dari wisatawan menuju hotel, dari hotel menuju produk lokal, dari produk lokal menuju pendapatan masyarakat.
Harapan dari Balik Pagar Bandara
Bagi masyarakat Desa Kiantar yang tinggal tidak jauh dari kawasan bandara, perubahan itu terasa dalam cara yang lebih sederhana.
Aktivitas pesawat dan pembangunan fasilitas penerbangan perlahan menjadi bagian dari keseharian warga. Namun, di balik perubahan tersebut, tersimpan harapan agar keberadaan bandara tidak hanya memberi manfaat bagi aktivitas perusahaan.
Salah seorang warga Desa Kiantar, Fauzi Wahyuddin, mengatakan masyarakat berharap kehadiran Bandara AMMAN dapat membuka lebih banyak kesempatan ekonomi bagi warga sekitar.
Menurut dia, bandara akan memberi arti lebih besar apabila keberadaannya ikut mendorong usaha masyarakat, membuka lapangan pekerjaan, serta menarik lebih banyak orang datang ke Sumbawa Barat.
“Harapan kami, bandara ini bukan hanya untuk kepentingan perusahaan. Kalau nanti penerbangan komersial sudah berjalan, mudah-mudahan masyarakat sekitar juga ikut merasakan manfaatnya. Ada usaha yang tumbuh, wisatawan datang, dan lapangan pekerjaan semakin terbuka,” ujarnya.
Ia menilai konektivitas udara dapat menjadi peluang baru bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan penghasilan dari berbagai usaha lokal.
“Kalau orang dari luar lebih mudah datang, tentu kami berharap usaha masyarakat juga ikut bergerak. Hotel, warung, transportasi, UMKM, semuanya bisa mendapatkan peluang,” katanya.
Warga lainnya, Sahira Putri, melihat keberadaan bandara sebagai perubahan besar bagi Desa Kiantar. Ia berharap pembangunan infrastruktur tersebut diikuti dengan keterlibatan masyarakat lokal dalam aktivitas ekonomi yang muncul di sekitarnya.
“Yang kami harapkan bukan hanya bandara berdiri, tetapi ada dampaknya untuk masyarakat. Anak-anak muda di sini bisa mendapat pekerjaan, usaha kecil bisa berkembang, dan desa kami semakin dikenal,” ujarnya.
Harapan itu sederhana, tetapi sekaligus menjadi ukuran penting bagi sebuah investasi besar.
Sebab bagi masyarakat yang tinggal di sekitar bandara, manfaat pembangunan bukan hanya dilihat dari panjang landasan pacu atau nilai investasi yang mencapai Rp390 miliar. Manfaat itu akan terasa ketika ada lebih banyak kesempatan yang terbuka di sekitar mereka.
Ketika wisatawan mulai datang, ketika hotel mulai terisi, ketika kendaraan lokal semakin banyak bergerak, ketika produk UMKM menemukan pasar baru, dan ketika anak-anak muda desa memperoleh kesempatan bekerja tanpa harus pergi jauh meninggalkan kampung halaman.
Di titik itulah sebuah bandara mulai benar-benar menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Bukan hanya tempat pesawat mendarat, tetapi juga tempat harapan ekonomi baru mulai mendapatkan landasan.
Landasan bagi Arah Baru Sumbawa Barat
Bandara Khusus Amman Mineral Poto Tano kini berada pada fase penting. Konstruksi telah selesai. Infrastruktur dan sumber daya manusia telah disiapkan. Sejumlah proses perizinan telah dilalui.
Babak berikutnya adalah memastikan bandara itu benar-benar memiliki kehidupan ekonomi. Pemerintah daerah harus menemukan model bisnis yang menarik bagi maskapai.
Pelaku usaha perlu menyiapkan pasar. Industri pariwisata harus memperkuat daya tarik destinasi. Masyarakat lokal perlu mendapat ruang untuk masuk ke dalam rantai ekonomi yang tercipta.
Semua pihak memiliki peran. Jika penerbangan komersial kelak terwujud dan pasar tumbuh, Bandara Amman Mineral Poto Tano dapat menjadi pintu masuk bagi wisatawan, investor dan pelaku usaha.
Bagi Sumbawa Barat, perubahan itu bukan semata-mata soal memangkas waktu perjalanan. Ia mengubah posisi sebuah daerah dalam peta ekonomi. Sebab, pada akhirnya, bandara bukan hanya tempat pesawat datang dan pergi. Tetapi arah ke mana sebuah daerah ingin bergerak.
Investasi sekitar Rp390 miliar yang ditanamkan AMMAN di Poto Tano telah menyediakan landasannya. Tantangan berikutnya adalah memastikan landasan tersebut membawa manfaat yang semakinjauh.
Memperkuat perdagangan, membuka peluang investasi, menggerakkan pariwisata, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat Sumbawa Barat. (*)
![]()






