Di balik ramainya kegiatan “Dompu Melayani” di arena CFD, tersimpan harapan besar yang dibawa pulang oleh masyarakat—terutama para petani.
Bantuan obat-obatan dan bibit yang dibagikan mungkin terlihat sederhana. Namun bagi petani, itu adalah jawaban atas persoalan yang selama ini mereka hadapi di lapangan.
Salah satu penerima manfaat, Irfan (38), petani jagung asal Kecamatan Woja, mengaku bahwa serangan hama dalam beberapa bulan terakhir cukup mengkhawatirkan.
“Kami sering bingung mau pakai obat apa. Kadang salah pakai, malah tanaman rusak. Tapi tadi dijelaskan langsung oleh petugas. Ini yang paling penting,” ungkapnya.
Ia menyebut, kegiatan seperti ini seharusnya menjadi agenda rutin, bukan hanya saat perayaan.
“Kalau bisa jangan hanya saat HUT. Petani butuh pendampingan terus,” tambahnya.
Tak hanya petani besar, kegiatan ini juga menyasar masyarakat umum yang mulai tertarik pada pertanian skala rumah tangga.
Dewi Lestari (29), warga Kelurahan Bada, mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan semacam ini.
“Saya sebenarnya bukan petani, tapi saya suka tanam sayur di rumah. Tadi saya dapat bibit cabai dan diajari cara merawatnya. Jadi lebih percaya diri untuk mulai,” katanya.
Bagi Distanbun, fenomena ini menjadi sinyal positif—bahwa minat masyarakat terhadap pertanian mulai tumbuh, bahkan di kawasan perkotaan.
Syahrul Ramadhan menegaskan bahwa pendekatan pelayanan langsung seperti ini akan terus diperkuat ke depan.
“Kami ingin membangun pertanian yang tidak hanya kuat di produksi, tetapi juga kuat dari sisi pengetahuan petani. Edukasi adalah kunci,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), yang menjadi salah satu tantangan utama sektor pertanian di Dompu.
Lebih jauh, kegiatan “Dompu Melayani” mencerminkan arah kebijakan pembangunan daerah yang semakin kolaboratif—menghadirkan pelayanan langsung, responsif, dan berbasis kebutuhan masyarakat.
Di akhir kegiatan, suasana tetap hangat. Warga pulang dengan membawa kantong berisi obat, bibit, dan—yang paling penting—pengetahuan baru.
Di tengah tantangan sektor pertanian yang semakin kompleks, langkah kecil seperti ini menjadi penting. Ia bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi juga investasi jangka panjang bagi ketahanan pangan daerah.
“Ini bukan sekadar pembagian bantuan. Ini adalah bentuk kehadiran pemerintah,” tutup Syahrul.
Dan pagi itu, di bawah langit cerah Dompu, harapan itu kembali ditanam—di hati petani, dan di tanah yang akan mereka olah. (kerjasama)
![]()










