JIKA alsintan adalah langkah awal, maka masa depan pertanian Dompu sedang dibangun dalam skala yang jauh lebih besar.
Dalam satu tahun terakhir, berbagai upaya yang dilakukan pemerintah daerah mulai menunjukkan arah yang jelas: membangun ekosistem pertanian yang terintegrasi.
Bupati Dompu, Bambang Firdaus, menyebutkan sejumlah program strategis yang tengah diperjuangkan dan akan segera hadir pada tahun 2026.
Mulai dari pembangunan Pelabuhan Kilo, pabrik pakan ternak, gudang penampungan jagung, hingga optimalisasi pemanfaatan lahan (oplah), serta bantuan bibit dan obat-obatan pertanian.
Semua ini bukan program yang berdiri sendiri. Ia adalah rangkaian besar yang saling terhubung.
Pelabuhan akan memperlancar distribusi. Gudang jagung akan menjaga stabilitas harga. Pabrik pakan ternak akan memperkuat sektor peternakan. Sementara oplah dan bantuan sarana produksi akan meningkatkan produktivitas di hulu.
Di balik orkestrasi besar ini, Dinas Pertanian dan Perkebunan Dompu kembali memainkan peran kunci—menjadi penghubung antara kebijakan dan realitas di lapangan.
Apa yang dilakukan hari ini bukan sekadar menjawab kebutuhan jangka pendek, tetapi menanam fondasi untuk masa depan.
Dompu sedang bergerak dari sekadar daerah penghasil menjadi daerah dengan sistem pertanian yang kuat dan berkelanjutan.
Dan di tengah semua itu, petani tetap menjadi pusatnya.
Karena pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak diukur dari banyaknya program, tetapi dari seberapa besar perubahan yang dirasakan masyarakat.
Di ladang-ladang yang terus digarap, di mesin-mesin yang mulai bekerja, dan di kebijakan yang perlahan terwujud—Dompu sedang menulis babak baru.
Sebuah cerita tentang kerja keras, kolaborasi, dan keyakinan bahwa dari tanah yang sederhana, masa depan yang besar bisa tumbuh. (Kerjasama)
![]()










