MATARAM – Kontingen Kabupaten Dompu mencatatkan fenomena menarik dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII Nusa Tenggara Barat (NTB) 2026. Di tengah gelombang efisiensi fiskal yang memangkas anggaran pembinaan olahraga hingga hampir separuhnya, performa para atlet Dompu justru melonjak drastis dan mengukir rekor baru.
Secara statistik, alokasi anggaran Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Dompu merosot tajam dari Rp5,5 miliar pada Porprov 2023 menjadi Rp2,96 miliar pada helatan tahun ini. Namun, keterbatasan tersebut justru dibayar tuntas dengan raihan 173 medali (44 emas, 44 perak, dan 85 perunggu).
Capaian ini melampaui rekor Porprov 2023 (160 medali) dan jauh meninggalkan catatan Porprov 2018 (114 medali). Tren perolehan medali emas pun mencatatkan kurva positif yang konsisten: 37 emas (2018), 43 emas (2023), hingga bermuara pada 44 emas pada 2026.
Manajemen Efektif dan Apresiasi Lintas Tokoh
Fenomena “biaya minim, prestasi maksi” ini mematik perhatian Ketua DPW Partai Ummat NTB yang juga mantan Ketua DPRD Dompu, Yuliadin, S.Sos. Menurutnya, keberhasilan Dompu mematahkan mitos bahwa keterbatasan anggaran selalu berbanding lurus dengan penurunan performa.
“Prestasi ini membuktikan bahwa kerja keras, kekompakan, dan manajemen pembinaan yang terarah mampu menghasilkan output yang luar biasa. Tidak mudah melipatgandakan pencapaian di saat dukungan finansial justru menyusut drastis,” ujar Yuliadin, Sabtu (25/7/2026).
Yuliadin secara khusus memberikan apresiasi tinggi kepada jajaran kepengurusan KONI Dompu di bawah komando Asrullah, ST, para pelatih, atlet, serta Pemerintah Kabupaten Dompu. Menurutnya, kehadiran dan komitmen moral Bupati Dompu di lapangan turut menjadi bahan bakar motivasi bagi para atlet yang bertanding.
Ia menilai, pencapaian ini adalah indikator valid bahwa tata kelola organisasi dan efektivitas program pembinaan di Dompu berjalan pada jalur yang benar.
Pekerjaan Rumah di Balik Euforia
Kendati mengukir tinta emas, Ketua KONI Dompu, Asrullah, menanggapi capaian ini dengan kepala dingin. Ia menegaskan bahwa hasil di Porprov XII bukanlah garis akhir, melainkan fondasi awal untuk transformasi olahraga Dompu yang lebih berkelanjutan.
Asrullah menggarisbawahi bahwa efisiensi anggaran tidak ideal jika dijadikan pola berulang dalam jangka panjang, mengingat pembinaan atlet usia dini dan penyediaan sarana-prasarana membutuhkan investasi yang stabil.
Selain masalah anggaran, KONI Dompu juga mencatat peta kekuatan yang belum optimal. Dari 51 cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan pada Porprov XII, Dompu baru mampu berpartisipasi pada 39 cabor.
“Masih ada 12 cabang olahraga yang belum memiliki kepengurusan aktif maupun sistem pembinaan terstruktur. Ini menjadi PR besar kami ke depan. Cabor-cabor pasif ini akan segera dibentuk dan diperkuat agar kran pembinaan semakin terbuka lebar bagi generasi muda Dompu,” tegas Asrullah. (di)
![]()










