Di lereng perbukitan Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, terdapat sebuah desa yang melahirkan banyak putra terbaik. Desa Maria, desa yang tenang dan sarat nilai budaya itu, kini kembali disebut-sebut masyarakat seiring munculnya satu nama yang mulai diperbincangkan menjelang kontestasi politik 2030: Kolonel Inf. Purn. Drs. Isnaini, M.Si.
Bagi sebagian masyarakat Bima, nama itu bukan sekadar perwira militer. Ia dianggap sebagai simbol kedisiplinan, ketegasan, dan pengabdian panjang terhadap negara. Setelah puluhan tahun mengabdi di dunia militer, Isnaini kini menyatakan kesiapannya untuk kembali ke tanah kelahiran — bukan hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga untuk mengabdi kepada masyarakat Bima.
Pesan singkat yang disampaikannya melalui WhatsApp pada 16 Mei 2026 menjadi awal mula perbincangan publik. Di tengah dinamika politik daerah dan harapan masyarakat akan perubahan, pernyataan sederhana itu justru memantik optimisme baru.
“Siap kembali ke daerah kelahiran untuk bersilaturahmi dan mengabdi,” tulisnya singkat.
Namun di balik kalimat itu, tersimpan harapan besar masyarakat yang selama ini merindukan hadirnya figur pemimpin yang dianggap mampu membawa ketegasan sekaligus keteduhan dalam pemerintahan.
Tumbuh dari Tanah Bima
Lahir dan besar di Desa Maria, Kecamatan Wawo, Isnaini memahami watak dan karakter masyarakat Bima. Ia tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai agama, budaya, dan solidaritas sosial. Pengalaman hidup di daerah menjadi bekal penting yang membentuk cara pandangnya terhadap kepemimpinan dan pengabdian.
Masyarakat Wawo mengenalnya sebagai sosok sederhana yang tidak melupakan asal-usul. Meski bertugas di berbagai daerah di Indonesia, hubungan emosionalnya dengan Bima disebut tetap terjaga.
Nama Isnaini kini mulai dibicarakan dari warung kopi hingga ruang-ruang diskusi masyarakat. Aspirasi itu muncul secara alami, terutama dari warga yang berharap lahirnya pemimpin baru dengan pengalaman nasional namun tetap memahami denyut kehidupan rakyat kecil.
Karier Panjang di Dunia Militer
Perjalanan karier Kolonel Inf. Drs. Isnaini, M.Si. terbilang panjang dan penuh pengalaman. Ia dikenal pernah menjadi Guru Militer dan pelatih di Secapaad Bandung. Dalam perjalanan tugasnya, ia juga pernah menjabat sebagai Danramil di Sumbawa, NTB, Dandenma Rindam I/Bukit Barisan, Kasdim 0306/50 Kota Sumatera Barat, hingga Irdya PPS Itdam I/BB.
Kariernya terus berkembang dengan berbagai amanah strategis, seperti Kabagminvet Babinminvetcaddam I/BB. Setelah menempuh pendidikan Seskoad AD, ia kembali dipercaya menjabat Irdya Verifikasi Keuangan Kodam I/BB, Kepala Tim Pelatih Rindam I/BB, hingga Dandodikjur Rindam I/BB.
Rekam jejak tersebut membuat banyak kalangan menilai Isnaini memiliki pengalaman birokrasi, manajerial, dan kepemimpinan yang matang. Di mata masyarakat, latar belakang militer dianggap memberi nilai lebih, terutama dalam hal disiplin, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan membangun tata kelola pemerintahan yang tertib.
Selama bertugas di Sumatera, ia juga dikenal dekat dengan para jurnalis dan berbagai elemen masyarakat. Kedekatannya dengan almarhum Muslimin Hamzah menjadi salah satu cerita yang masih dikenang sejumlah wartawan senior.
Harapan Baru Masyarakat Bima
Menjelang pesta demokrasi 2030, suhu politik di Kabupaten Bima perlahan mulai menghangat. Masyarakat mulai membicarakan figur-figur potensial yang dinilai layak memimpin daerah ke depan.
Di tengah situasi itu, nama Isnaini hadir sebagai alternatif baru. Bukan berasal dari lingkaran elite politik lama, tetapi dari dunia pengabdian yang berbeda: militer.
Harapan terhadap dirinya datang dari berbagai wilayah di Bima — mulai dari Wawo, Sape, hingga Tambora. Banyak warga berharap pemimpin masa depan tidak hanya hadir saat kampanye, tetapi benar-benar mampu menjadi pelindung masyarakat dan penggerak pembangunan daerah.
Bagi sebagian warga, Bima membutuhkan sosok yang mampu menghadirkan pemerintahan bersih, pelayanan publik yang kuat, dan pembangunan yang merata hingga pelosok desa.
Kerinduan itu semakin besar di tengah berbagai persoalan yang masih dihadapi daerah, mulai dari infrastruktur, pelayanan dasar, lapangan kerja, hingga penguatan ekonomi masyarakat.
Membawa Semangat “Bima Sejahtera”
Di tengah harapan masyarakat tersebut, muncul visi yang mulai dikaitkan dengan sosok Isnaini: “Bima Sejahtera, Makmur, Aman, Religius.”
Sebuah visi yang dianggap mencerminkan karakter masyarakat Bima sekaligus kebutuhan pembangunan masa depan. Tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keamanan sosial, nilai keagamaan, dan keadilan pembangunan.
Bagi masyarakat, kepemimpinan bukan sekadar soal jabatan politik. Lebih dari itu, pemimpin harus mampu menghadirkan rasa aman, menjadi teladan, serta menjaga persatuan seluruh elemen daerah.
Perjalanan menuju 2030 memang masih panjang. Namun kemunculan nama Kolonel Inf. Purn. Drs. Isnaini, M.Si. telah memberi warna baru dalam percakapan politik di Kabupaten Bima.
Dari Desa Maria di kaki Wawo, harapan itu mulai tumbuh — tentang seorang putra daerah yang pulang membawa pengalaman, pengabdian, dan mimpi besar untuk tanah kelahirannya. (*)
![]()









