H. Muhammad Agus Suryanto dan Cinta Tak Bersyarat untuk Dompu
SAUDI – DOMPU
Magrib baru saja berlalu pada Sabtu 10 Mei 2025. Dompu Diguyur hujan, lembut namun tak kunjung reda. Di RSUD Dompu, dalam sunyi yang nyaris sakral, H. Muhammad Agus Suryanto menutup mata untuk terakhir kalinya.
Kepergiannya tak diiringi sirine panjang atau berita besar. Tapi duka menyebar cepat, mengendap di hati mereka yang mengenalnya sebagai sahabat, sebagai wartawan, sebagai penulis sejarah, sebagai abdi negara dan sebagai ayah yang pendiam tapi penuh cinta.
H. Agus bukan kelahiran Dompu. Tapi ia memilih daerah ini karena cinta. Cinta yang ia buktikan lewat kehidupan, karya, dan pengabdiannya. Ia menikahi perempuan Dompu, Nining dan tinggal di Kelurahan Simpasai, Kecamatan Woja, membesarkan dua anaknya, Danang dan Ajeng.
“Beliau sangat baik dan dekat dengan siapa saja,” ujar Muhyiddin, Ketua PWI Dompu. “Meski bukan orang asli Dompu, cintanya untuk daerah ini tak diragukan,” tambahnya.
Wartawan senior H. Abdul Muis pun tak kuasa menyembunyikan rasa kehilangan. “Beliau tetap jurnalis dalam jiwa. Cinta dan silaturahminya tinggi. Meski sudah lama tinggalkan dunia pers, beliau tetap kembali ke kami dengan cara yang tak selalu kelihatan,” katanya.
Dan memang, bagi H. Agus, dunia pers bukan sekadar profesi. Itu adalah panggilan hati. Bahkan, di rumahnya yang sederhana dulu, ia pernah menggantung tulisan yang tak akan pernah dilupakan oleh mereka yang pernah datang.
“Kalau mau mati, jadilah wartawan. Kalau mau melarat, jadilah wartawan.”
Tulisan itu seperti ironi. Tapi di balik ironi itu, tersembunyi keteguhan dan keberanian menjadi wartawan bukan jalan nyaman. Tapi di situlah kejujuran hidup diuji. Dan H. Agus menjalaninya bukan hanya bertahan, tapi memberi makna.
Dari Pena ke Panggung Pemerintahan
Karier kewartawanannya membentang panjang, dari NTB Post hingga Sumbawa Post, dari Harian Lombok sampai Koran Berita. Di tengah-tengahnya, ia menang lomba menulis dan diberangkatkan haji oleh pemerintah daerah. Sebuah penghargaan yang ia sambut dengan rendah hati, seolah itu bukan apa-apa.
Namun hidup memanggilnya ke jalur lain. Ia menjadi ASN di Bagian Humas Setda Dompu. Tugasnya, menulis sambutan untuk Bupati. Mungkin terdengar biasa. Tapi tidak bagi H. Agus. Ia menulis sambutan seperti menulis sejarah. Kata-kata yang ia susun tidak hanya komunikatif, tapi bermakna dan menyentuh.
Ketika Presiden Joko Widodo berkunjung ke Dompu, sambutan yang dibaca Bupati adalah karyanya. Tapi ia memilih berdiri di belakang, tanpa menuntut kredit. Ia menulis, lalu membiarkan orang lain membaca dan mendapat tepuk tangan. Ia puas cukup dengan tahu tulisannya berguna.
Menulis Sejarah agar Kita Tak Lupa
H. Agus menulis bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk besok dan seterusnya. Ia menulis buku sejarah agar Dompu tidak kehilangan akarnya.
Napak Tilas Leluhur: Menyusuri Jejak Langkah Ompu Beko, Ama Rasa Dana Dompu
Letusan Tambora: Misteri Lahirnya Dompu Baru
Kilas Balik Perjalanan Pencarian dan Penetapan Hari Jadi Dompu 11 April 1815/H
Buku-buku ini tak laris di pasar. Tapi laris di hati para pencari makna. Ia tahu, sejarah bisa hilang jika tak ditulis. Maka ia menulis dengan sabar, dalam sunyi, dalam cinta.
Dari Jurnalis ke Intelijen, Pengabdian Tanpa Sorotan
Kemampuan observasinya sebagai jurnalis membuatnya dilirik oleh Kesbangpoldari, dan kemudian Badan Intelijen Negara (BIN). Ia menjalani tugas yang tak pernah masuk koran, tak pernah diumumkan. Tapi setiap informasinya, setiap analisisnya, penting bagi stabilitas.
Tugas-tugas itu membawanya ke banyak tempat di NTB. Tapi pada akhirnya, ia kembali ke Dompu. Mungkin karena takdir. Mungkin karena jiwanya tahu bahwa tempat terbaik untuk pergi adalah tempat yang paling kita cintai.
Ia Telah Pergi, Tapi Tidak Tiada
Hujan masih turun ketika jenazahnya dibawa ke rumah duka. Doa mengalir dari sahabat, rekan kerja, sesama jurnalis, ASN, bahkan warga biasa yang pernah membaca tulisannya.
Ia tak meninggalkan gedung atau yayasan. Tapi ia meninggalkan kata-kata. Dan kata-kata, jika ditulis dengan ketulusan, akan tinggal lebih lama dari bangunan beton mana pun.
Ketika anak-anak Dompu membaca kembali tentang Ompu Beko, Letusan Tambora, atau hari jadi Dompu, mereka membaca jejaknya. Ketika wartawan baru merasa putus asa karena idealisme terasa berat, mereka bisa kembali pada kalimat yang pernah ia gantung di rumahnya. Dan barangkali dari sana mereka mengerti, bahwa hidup bukan soal kaya atau terkenal, tapi tentang memberi makna.
Selamat jalan, Haji Agus. Terima kasih telah menulis untuk kami, untuk Dompu, untuk masa depan yang tak selalu tahu dari mana ia berasal. Tulisanmu tak akan hilang. Karena ia ditulis dengan hati yang penuh cinta. (*)
![]()










