PULANG SEKOLAH : Nampak M. Adrian sedang berjalan di depan pagar sekolah. Disekolah inilah dia membangun harapan untuk tumbuh normal seperti anak lainnya.
Pagi itu, sinar matahari menyapu lembut langit Kelurahan Kandai Dua, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Udara segar menyeruak, berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang kerap mendung karena musim hujan mulai rajin berkunjung. Alam seakan memberi jeda, menghadirkan pagi yang lebih ramah bagi setiap aktivitas warga.
Di Terminal Ginte, yang berdekatan dengan pasar tradisional Dompu, kehidupan seperti tak pernah berhenti berdetak. Suara klakson angkutan umum bersahut-sahutan, ojek motor lalu-lalang mencari penumpang, pedagang kaki lima sibuk menata dagangannya. Hiruk pikuk bercampur aroma khas pasar, menghadirkan potret sehari-hari yang penuh detak kehidupan.
Namun hanya berjarak sekitar 500 meter dari riuh itu, suasana berubah drastis. Sebuah pagar sekolah sederhana berdiri kokoh, seakan menjadi pembatas antara dunia yang bising dan dunia yang lebih teduh. Itulah Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Dompu. Tempat anak-anak berkebutuhan khusus meniti hari, belajar dan bermimpi. Begitu melangkah melewati gerbangnya, suasana hangat menyambut.
Halaman sekolah yang teduh, taman kecil dengan bunga kertas berwarna-warni dan tawa anak-anak yang berlarian sebelum masuk kelas, menciptakan nuansa yang jauh dari kesan kaku. Di balik bangunan sederhana itu, tersimpan semangat besar untuk memberi ruang tumbuh bagi anak-anak yang dianggap berbeda.
Di halaman sekolah, seorang bocah berlari-lari kecil mengitari taman bunga dengan wajah ceria. Langkahnya ringan, meski tutur katanya tertahan di dua kata, “mama” dan “papa.” Dialah Muhammad Adrian Maulana, anak ketiga dari pasangan Amiruddin dan Hadijah.
Usianya tujuh tahun, namun ia tumbuh dengan keterlambatan bicara dan perilaku yang berbeda dari anak seusianya. “Saat lahir dia normal, sehat. Tapi sejak kecil, setiap Adrian rewel, kami kasih tontonan di HP biar diam. Lama-lama jadi kebiasaan, bisa dibilang kecanduan,” kata Amiruddin dengan nada penuh penyesalan.
Apa yang semula dianggap solusi instan, ternyata menjadi awal masalah besar. Pada usia satu tahun, layar ponsel menjadi penenang Adrian. Setiap kali menangis, tontonan video jadi jalan keluar. Semakin lama, semakin intens. Hingga usia dua tahun, orang tuanya mulai curiga.
Adrian tak tumbuh seperti anak seusianya. Ia sulit tidur, sering terbangun tengah malam sambil berteriak, emosinya tak terkendali dan yang paling meresahkan tidak mampu berbicara.
Sejak usia tiga tahun, keluarga membawa Adrian keluar masuk rumah sakit. Dari fasilitas kesehatan di Dompu hingga rumah sakit provinsi, berbagai terapi ditempuh. Uang habis tak terhitung jumlahnya. Harapan dibawa setiap kali terapi dijalankan, namun perubahan signifikan tak juga datang.
Hingga usianya tujuh tahun, keterlambatan bicara itu masih menghantui. Ketika sempat dimasukkan ke sekolah formal, guru-guru kewalahan. Adrian tak bisa dikendalikan, setiap hari membuat ulah. Akhirnya, ia dipindahkan ke SLBN 1 Dompu, tempat yang lebih memahami kondisinya.
Apa yang dialami Adrian bukan kasus tunggal. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2019 telah mengeluarkan pedoman. Anak usia di bawah dua tahun sebaiknya sama sekali tidak terpapar layar gawai, sedangkan anak usia dua hingga lima tahun maksimal hanya satu jam per hari. Namun kenyataannya jauh berbeda.
Riset Kementerian Kesehatan RI tahun 2024 mencatat, lebih dari 65 persen anak usia dua hingga lima tahun di Indonesia sudah menggunakan gawai lebih dari tiga jam per hari. Sebagian besar karena alasan praktis. Menenangkan anak agar tidak rewel.
Psikolog anak dari Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, Firmansyah, S.Psi, M.Mkes menegaskan, stimulasi lewat gawai tidak bisa menggantikan interaksi nyata. Anak yang terlalu lama di depan layar bisa mengalami keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi, bahkan masalah perilaku, “Kondisi Adrian, dengan kecemasan dan keterlambatan bicara, menjadi potret nyata bagaimana gawai yang awalnya dianggap penyelamat justru berubah jadi jebakan,” ungkapnya.
Amiruddin dan istrinya, Hadijah, menanggung beban penyesalan itu. “Cukuplah kami yang merasakan ini. Jangan sampai orang tua lain mengulang kesalahan kami. Jangan gampang kasih HP ke anak, apalagi saat balita,” ujar Amiruddin lirih.
Kini, keluarga itu hanya bisa terus berdoa. Bahwa usaha, doa dan kasih sayang akan membuka jalan bagi Adrian untuk tetap tumbuh dengan caranya sendiri.
Psikolog anak, Irawati Putri, Psi menyebut kasus seperti Adrian seharusnya menjadi peringatan serius. Menurutnya, gawai bukan musuh, tapi alat yang harus digunakan dengan bijak. “Masalahnya bukan pada gawai, tapi pada screen time yang tidak terkendali. Anak-anak butuh stimulasi nyata. Kontak mata, percakapan, sentuhan dan permainan langsung. Itu yang tak bisa digantikan layar,” jelasnya.
WHO dan Kementerian Kesehatan RI memberi beberapa panduan yang bisa diterapkan orang tua. Anak usia di bawah dua tahun sebaiknya tidak sama sekali terpapar layar, anak usia dua hingga lima tahun maksimal satu jam per hari dengan pendampingan orang tua, rutinitas tanpa gawai pada momen makan dan berkumpul keluarga serta mendorong aktivitas fisik dan sosial. Anak yang sering bermain di luar rumah, menggambar atau berinteraksi dengan teman cenderung memiliki tumbuh kembang lebih baik.
Sekolah seperti SLBN 1 Dompu menjadi garda terdepan dalam mendampingi anak-anak seperti Adrian. Dengan guru-guru yang sabar dan memahami kebutuhan khusus, anak-anak bisa mendapat ruang belajar yang sesuai. Namun, beban tak boleh hanya ditanggung sekolah.
Pemerintah daerah dan pusat juga dituntut hadir. Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan perlu bekerja sama untuk menggelar sosialisasi bahaya screen time di posyandu, TK hingga SD.
Menyediakan layanan terapi tumbuh kembang yang terjangkau dan membuat program parenting digital agar orang tua lebih paham pola asuh di era gawai. “Kalau sekolah jalan sendiri, hasilnya tidak maksimal. Harus ada ekosistem, orang tua, sekolah, pemerintah yang saling menguatkan,” ujar Novianti, seorang konselor pendidikan anak.
Adrian memang tumbuh berbeda. Tapi dari senyumnya yang polos, dari tawa kecilnya ketika berlari di halaman SLBN 1 Dompu, kita belajar bahwa setiap anak tetap punya hak untuk tumbuh dan bermimpi. Penyesalan orang tuanya menjadi pesan kuat bagi keluarga lain. Jangan sampai kenyamanan instan hari ini menjadi beban panjang di masa depan.
Kisah Adrian bukan hanya cerita tentang seorang bocah Dompu. Ini adalah cerita kita semua, tentang bagaimana teknologi bisa jadi sahabat, tapi juga bisa menjadi jebakan, tergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Dan di tengah perjuangan panjang itu, masih ada harapan.
Harapan bahwa dengan kasih sayang, kesabaran serta pola asuh yang lebih bijak, anak-anak seperti Adrian bisa menemukan jalannya sendiri. (*)
![]()










