INOVASI : Melalui teknologi pengolahan limbah, oli bekas kini berubah fungsi menjadi sumber energi bagi pembangkit listrik di kawasan tambang.
Oli bekas sering dipandang sebagai limbah beracun yang mencemari tanah dan air. Namun di tangan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), cairan hitam itu justru berubah menjadi sumber energi pembangkit listrik. Berikut catatan.
SAUDI – TAMBORAPOST.COM
Di tengah bentangan perbukitan Batu Hijau, truk-truk tambang seukuran rumah berlalu lalang. Mengangkut bongkahan batu yang menyimpan tembaga dan emas. Dibalik itu ada cerita lain yang tak kalah penting. Kisah tentang bagaimana limbah menjadi sumber energi baru.
Oli bekas, yang sebelumnya hanya dianggap sisa pakai dari ratusan alat berat tambang, kini diberi kehidupan kedua. Setiap tetesnya mengandung potensi energi yang luar biasa. Di tangan para teknisi AMMAN, oli itu berubah menjadi bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga uap.
Tambang Batu Hijau tak pernah tidur beroperasi. Dua puluh empat jam sehari. Tujuh hari seminggu. Alat-alat berat bekerja keras menggali bumi. Tekanan tinggi dan suhu ekstrem membuat kebutuhan oli pelumas melonjak. Begitu masa pakainya habis, oli itu berubah menjadi limbah berbahaya yang harus dikelola dengan hati-hati.
Namun, AMMAN memilih jalan berbeda. Memprosesnya kembali. Di fasilitas pengolahan oli bekas melewati serangkaian tahap filtrasi untuk memisahkan kotoran, air dan partikel logam. Hasilnya adalah bahan bakar alternatif yang aman digunakan dalam sistem pembakaran bertekanan tinggi.
Pada 2023, inisiatif ini menunjukkan hasil luar biasa. Sebanyak 339.994 liter oli bekas berhasil digunakan sebagai bahan bakar, menggantikan 313 ton batubara. Angka yang mungkin terlihat kecil di atas kertas. Tetapi besar artinya bagi langkah menuju tambang yang lebih hijau.
Pembangkit listrik di Batu Hijau kini beroperasi dengan suhu pembakaran mencapai 950°C. Di mana oli bekas mengalir dengan laju 10 liter per menit. Proses ini bukan sekadar efisiensi energi. Tetapi sebuah perubahan. Dari pola pikir eksploitatif menuju ekonomi sirkular yang memanfaatkan kembali apa yang sebelumnya dianggap tak berguna.
Langkah ini juga menjadi bagian dari peta jalan besar AMMAN dalam menurunkan emisi karbon. Setelah sukses dengan oli bekas, perusahaan mulai beralih dari batubara ke gas alam cair (LNG). Sumber energi yang lebih bersih. Proyek besar pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) dengan kapasitas 450 MW yang sedang dibangun menjadi fondasi bagi transisi energi di kawasan timur Indonesia.
Di kampung sekitar tambang, kabar tentang oli bekas yang diubah menjadi bahan bakar listrik sempat terdengar seperti cerita aneh bagi warga. “Awalnya saya kira itu cuma percobaan. Tapi ternyata benar, sekarang limbah oli dari alat berat bisa dipakai untuk menyalakan listrik pembangkit. Kami yang dulu khawatir oli itu mencemari tanah, malah lihat sendiri bagaimana limbah itu dimanfaatkan kembali. Itu luar biasa,” ujar Nur Azis, tokoh masyarakat di Desa Benete pada Tambora Post.
Bagi Nur Azis, langkah itu seperti membuka cara pandang baru tentang tambang. Ia ingat beberapa tahun lalu, warga sering bertanya-tanya ke mana semua oli bekas dari kendaraan dan mesin tambang dibuang. “Dulu, yang kami tahu, oli bekas itu berbahaya. Bisa mencemari air dan tanah. Sekarang justru oli itu bisa menghasilkan energi. Saya rasa ini contoh bagus bagaimana teknologi bisa jalan seiring dengan kepedulian lingkungan,” ungkapnya.
Namun tidak semua warga melihatnya tanpa catatan. Siti Rahma, warga yang membuka warung di dekat kompleks perumahan karyawan di Desa Maluk, mengaku sempat khawatir.
“Namanya juga limbah, pasti ada kekhawatiran. Kami takut asap dari pembakaran oli itu bisa mencemari udara. Tapi setelah dijelaskan bahwa oli itu sudah disaring dan diuji dulu, kami jadi lebih tenang. Cuma kami berharap, hasil uji itu juga bisa dibuka ke masyarakat, supaya kami paham apa yang sebenarnya keluar dari cerobong listrik itu,” katanya.
Sementara itu, Herman, nelayan di pesisir Pantai Maluk, melihat program ini sebagai langkah maju tapi berharap manfaatnya bisa dirasakan lebih luas.
“Kalau oli bekas bisa jadi listrik, kenapa tidak sebagian energi itu juga dialirkan ke desa-desa sekitar?. Biar masyarakat juga ikut menikmati hasil inovasi itu, bukan hanya tahu dari cerita,” tuturnya.
Nur Azis tersenyum ketika ditanya apa pendapatnya kini tentang program itu. “Kalau dulu kata ‘limbah’ identik dengan kotor dan berbahaya, sekarang kami lihat dengan kacamata berbeda. Ternyata dari sesuatu yang kotor, bisa lahir energi yang bersih. Yang penting, tetap transparan dan masyarakat diajak ikut tahu. Karena lingkungan ini bukan milik perusahaan saja, tapi juga milik kami semua,” tegasnya.
Bagi pemerintah provinsi, inovasi pengelolaan limbah oli bekas oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara bukan hanya langkah teknis, melainkan tonggak penting dalam perjalanan menuju transformasi energi yang lebih bersih di Nusa Tenggara Barat.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTB, Syamsudin, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif tersebut. Menurutnya, langkah AMMAN mengubah oli bekas menjadi bahan bakar pembangkit listrik menunjukkan bahwa industri pertambangan bisa menjadi bagian dari solusi, bukan hanya penyumbang persoalan lingkungan.
“Kami sangat mengapresiasi langkah AMMAN. Ini bukan hanya inovasi teknologi, tapi juga bukti nyata bahwa pengelolaan limbah bisa dilakukan dengan cara yang produktif dan berkelanjutan,” ujar Syamsudin.
Selama ini, pengelolaan limbah B3 seperti oli bekas menjadi tantangan di banyak sektor industri. “AMMAN berhasil membuktikan bahwa dengan komitmen dan riset yang baik, limbah itu bisa menjadi sumber energi baru,” ungkapnya.
Syamsudin menilai, praktik pemanfaatan oli bekas di Batu Hijau selaras dengan visi Pemerintah Provinsi NTB untuk mendorong ekonomi hijau dan transisi energi. Ia menjelaskan bahwa sektor pertambangan memiliki peran besar dalam mendukung target nasional pengurangan emisi karbon dan pencapaian net zero emission pada 2060.
“Kita tahu, tambang adalah sektor yang padat energi. Ketika mereka mulai mengganti sebagian kebutuhan energinya dari batubara ke bahan bakar alternatif seperti oli bekas dan ke depan LNG, ini langkah maju yang patut dicontoh,” lanjutnya.
Bayangkan, dari limbah yang berpotensi mencemari lingkungan, justru menghasilkan listrik yang menopang operasional tambang. “Ini bukan hanya efisiensi, tapi bentuk tanggung jawab moral terhadap bumi,” tuturnya.
Syamsudin juga menyoroti pentingnya aspek keberlanjutan sosial dalam inovasi seperti ini. Menurutnya, pengelolaan energi bersih tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan masyarakat lokal.
“Kami dorong agar setiap inovasi energi seperti ini disertai keterbukaan informasi dan partisipasi masyarakat. Warga di sekitar tambang harus tahu bagaimana prosesnya, dampaknya dan manfaatnya. Dengan begitu, mereka tidak hanya menjadi penonton, tapi juga bagian dari perubahan menuju energi bersih,” sarannya.
Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa ESDM NTB akan menjadikan praktik ini sebagai contoh baik bagi perusahaan-perusahaan lain di sektor pertambangan dan energi.
“Kami akan mendorong agar model pengelolaan limbah seperti yang dilakukan AMMAN ini bisa direplikasi di wilayah lain. Karena ini bukan hanya soal teknologi, tapi tentang paradigma baru, bahwa setiap tetes limbah bisa punya nilai, setiap proses industri bisa dibuat lebih hijau,” paparnya.
Menutup pernyataannya, Syamsudin menegaskan bahwa inovasi seperti ini selaras dengan arah pembangunan energi NTB yang berkelanjutan, yang memadukan efisiensi sumber daya, perlindungan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat lokal.
“NTB memiliki potensi besar untuk menjadi laboratorium energi bersih di Indonesia Timur. Kalau sektor tambang saja bisa mulai bertransformasi seperti ini, saya optimistis daerah lain juga bisa mengikuti. Dan itu akan menjadi warisan penting bagi generasi yang akan datang,” pungkasnya.
Meski banyak pihak mengapresiasi langkah AMMAN dalam memanfaatkan oli bekas sebagai bahan bakar pembangkit listrik, kalangan akademisi menilai bahwa inovasi semacam ini tetap perlu dikawal dengan pendekatan ilmiah dan pengawasan berkelanjutan.
Syarif Hidayatullah, ST, MT, seorang akademisi di NTB, menilai meskipun konsep waste to energy yang diterapkan AMMAN patut diapresiasi, ada beberapa aspek yang tidak boleh luput dari perhatian. Terutama terkait standar emisi, efisiensi energi dan dampak jangka panjang terhadap lingkungan.
“Pemanfaatan oli bekas sebagai bahan bakar pembangkit listrik memang langkah maju, terutama dalam konteks ekonomi sirkular,” ujar Syarif.
Namun, harus dipastikan bahwa proses pembakaran oli ini benar-benar aman. “Jika tidak dikelola dengan sistem penyaringan dan pengendalian emisi yang ketat, justru bisa menimbulkan polutan baru seperti partikulat halus dan gas beracun,” ungkapnya.
Syarif menjelaskan bahwa oli bekas termasuk kategori limbah B3 karena mengandung logam berat seperti timbal, kadmium dan kromium. Meskipun melalui proses filtrasi dan pengujian, kata dia, pengawasan tetap harus dilakukan secara rutin oleh lembaga independen untuk memastikan kualitas udara dan sisa hasil pembakaran tetap dalam ambang batas aman.
“Jangan sampai upaya untuk mengurangi limbah di satu sisi justru menciptakan potensi pencemaran di sisi lain,” ujarnya menekankan.
AMMAN telah memulai hal baik, tapi sistem monitoring dan transparansi data harus diperkuat. “Publik, termasuk masyarakat sekitar tambang, berhak tahu sejauh mana pengelolaan itu aman,” tuturnya.
Menurut Syarif, keberhasilan program seperti ini tidak hanya diukur dari seberapa banyak limbah yang berhasil dimanfaatkan. Tetapi juga dari seberapa berkelanjutan dampaknya bagi lingkungan dan masyarakat. Ia menilai pentingnya kolaborasi antara industri, pemerintah dan akademisi untuk melakukan kajian dampak lingkungan lanjutan (long-term impact assessment) terhadap inovasi semacam ini.
“Kita perlu pendekatan berbasis sains. Misalnya, mengukur kadar emisi dari pembakaran oli bekas dibandingkan batubara, menghitung efisiensi energi yang dihasilkan dan menilai seberapa besar pengurangan karbon yang benar-benar terjadi,” jelasnya.
Menurutnya, tanpa data yang terbuka dan terukur, sulit menyebut inovasi ini benar-benar hijau. Meski demikian, Syarif tetap memuji AMMAN karena berani mengambil langkah awal menuju industri tambang yang lebih bertanggung jawab.
“Saya kira ini langkah penting. Hanya saja, jangan berhenti di sini. Inovasi energi bersih harus terus dikembangkan, bukan hanya dari limbah. Tapi juga dari sumber terbarukan seperti gas alam, tenaga surya dan biomassa. Itu arah masa depan yang harus kita tuju,” pungkasnya.
Kini, inovasi AMMAN bukan sekadar tentang teknologi, tapi tentang kesadaran bahwa keberlanjutan bukan hanya urusan mesin dan pabrik, melainkan juga nurani manusia yang mengelolanya.
Warga di Benete yang dulu khawatir kini mulai percaya, pemerintah memberi apresiasi dan akademisi menegaskan pentingnya kehati-hatian. Semua suara itu berpadu dalam satu pesan, bahwa masa depan energi bersih tidak bisa dibangun sendirian, melainkan harus ditopang oleh kolaborasi. Antara industri, ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Namun perjalanan ini belum selesai. Tantangan ke depan justru ada pada konsistensi. Bagaimana menjaga agar langkah hijau ini tidak sekadar menjadi program sesaat. Tetapi menjadi budaya baru dalam industri tambang. Karena keberlanjutan sejati bukan hanya mengolah limbah, tetapi juga mengubah cara berpikir manusia terhadap bumi yang memberinya kehidupan.
Di Batu Hijau, cahaya kini lahir dari hitam pekat. Dan mungkin di sanalah kita bisa melihat masa depan energi Indonesia. Lahir bukan dari sumber daya yang dieksploitasi, tapi dari kesadaran untuk memulihkan, memanfaatkan kembali dan memberi arti baru pada setiap sisa kehidupan. (*)
![]()










