Di sebuah lapangan sederhana, tiga unit mesin besar berdiri mencolok. Warnanya kontras dengan tanah dan rerumputan di sekitarnya. Itulah combine harvester—alat panen modern yang selama ini hanya bisa dibayangkan oleh sebagian petani. Hari itu menjadi penanda penting.
Bupati Dompu, Bambang Firdaus, secara langsung menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada kelompok tani dari Kecamatan Manggelewa, Kempo, dan Woja.
Namun, yang terlihat sebagai seremoni sederhana itu sejatinya adalah puncak dari perjalanan panjang.
“Ini bukan datang begitu saja,” ujar Bupati dalam sambutannya. “Ini hasil dari ikhtiar, dari silaturahmi, dari upaya kita bersama mengetuk hati pemerintah pusat.”
Bantuan tersebut berasal dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia—buah dari komunikasi intens yang dibangun oleh pemerintah daerah, khususnya melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan Dompu.
Kepala dinas, Syahrul Ramadhan, memahami betul bahwa keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh kerja di lapangan, tetapi juga kemampuan menghadirkan dukungan dari luar daerah.
Dan combine harvester itu bukan sekadar alat. Ia adalah simbol perubahan.
Dengan mesin ini, proses panen menjadi jauh lebih cepat, efisien, dan mengurangi kehilangan hasil. Biaya produksi bisa ditekan, dan pada akhirnya, pendapatan petani berpotensi meningkat secara signifikan.
Namun pemerintah tidak berhenti pada penyerahan bantuan.
Ada pesan kuat yang disampaikan: alat ini harus dijaga, dirawat, dan dimanfaatkan secara maksimal. Karena nilai sesungguhnya bukan pada mesinnya, tetapi pada dampaknya bagi kesejahteraan petani.
Di sinilah pendekatan Dinas Pertanian dan Perkebunan Dompu terlihat matang—tidak hanya menghadirkan program, tetapi juga memastikan keberlanjutan manfaatnya.
Petani bukan lagi sekadar objek pembangunan, melainkan mitra yang harus diberdayakan.
Dan dari tiga unit mesin itu, harapan mulai bergerak—dari seremoni menuju perubahan nyata di ladang-ladang Dompu. (Kerjasama)
![]()










