Kegiatan diskusi dan launching buku “Mengasuh dengan Bahagia” karya Yuliana Setia Rahayu.
Di tengah derasnya arus informasi digital dan cepatnya perubahan zaman, menulis buku kerap dianggap sebagai sesuatu yang berat, rumit, bahkan eksklusif. Seolah hanya bisa dilakukan oleh akademisi, tokoh besar atau mereka yang “sudah sangat siap”.
Namun buku “Mengasuh dengan Bahagia” karya Yuliana Setia Rahayu hadir sebagai penegasan bahwa menulis buku sejatinya bisa berangkat dari pengalaman hidup sehari-hari. Kegelisahan yang jujur dan dari niat baik untuk berbagi manfaat kepada sesama.
Buku ini tidak lahir dari menara gading teori, melainkan dari ruang paling manusiawi. Rumah, keluarga dan proses mengasuh anak yang penuh dinamika. Di sanalah letak kekuatannya. Yuliana Setia Rahayu menunjukkan bahwa pengalaman personal, ketika dituliskan dengan kejujuran, empati dan refleksi, dapat menjelma menjadi karya yang relevan bagi banyak orang.
Bagi para penulis muda, buku ini memberikan pelajaran penting bahwa menulis bukan soal seberapa hebat kita di mata orang lain, tetapi seberapa jujur kita memahami dan mengolah pengalaman hidup sendiri. Mengasuh anak, dalam buku ini, tidak digambarkan sebagai proses yang selalu sempurna, melainkan perjalanan yang penuh pembelajaran, kesalahan, perbaikan dan harapan. Justru dari ketidaksempurnaan itulah nilai edukatifnya tumbuh.
Lebih dari sekadar buku parenting, “Mengasuh dengan Bahagia” adalah contoh nyata bahwa tema besar tidak harus disampaikan dengan bahasa yang rumit. Bahasa yang hangat, membumi, dan komunikatif membuat pesan buku ini mudah diterima oleh pembaca lintas latar belakang. Inilah pelajaran penting bagi penulis muda, kesederhanaan bukan kelemahan, melainkan kekuatan.
Menulis buku juga sering ditakuti karena dianggap memerlukan keberanian besar. Takut dinilai, takut dikritik, atau takut tidak dibaca. Namun keberanian Yuliana Setia Rahayu dalam membagikan pemikirannya menjadi contoh bahwa setiap tulisan yang lahir dari niat baik akan menemukan pembacanya sendiri. Buku ini tidak menggurui, tidak menghakimi, tetapi mengajak pembaca berjalan bersama dalam proses mengasuh dengan bahagia dan penuh kesadaran.
Bagi generasi muda yang memiliki kegelisahan, pengalaman atau pengetahuan di bidang apa pun. Baik di bidang pendidikan, sosial, budaya, lingkungan, bahkan kehidupan sehari-hari, buku ini menjadi bukti bahwa menulis adalah cara merawat ingatan, menyebarkan nilai, dan meninggalkan jejak pemikiran bagi masa depan. Setiap pengalaman memiliki nilai, selama ditulis dengan tanggung jawab dan ketulusan.
Dalam konteks literasi di tanah air, karya seperti “Mengasuh dengan Bahagia” juga memperlihatkan bahwa menulis buku adalah bentuk kontribusi nyata bagi masyarakat. Buku tidak hanya menjadi produk intelektual, tetapi juga medium perubahan, membentuk cara berpikir, cara bersikap dan cara memaknai kehidupan.
Editorial ini hendak mengajak para penulis muda untuk tidak menunggu sempurna. Mulailah menulis dari hal yang paling dekat dengan diri sendiri. Mulailah dari pengalaman, dari keresahan, dari pertanyaan-pertanyaan kecil yang sering kita abaikan. Seperti yang ditunjukkan Yuliana Setia Rahayu, sebuah buku bisa lahir dari niat sederhana. Berbagi kebahagiaan dan pembelajaran hidup.
Karena pada akhirnya, menulis buku bukan untuk menjadi terkenal, tetapi tentang memberi makna. Dan setiap penulis muda memiliki kesempatan yang sama untuk memulainya.
Selamat dan sukses atas terbitnya buku “Mengasuh dengan Bahagia” karya Yuliana Setia Rahayu. (*)
![]()










