• Beranda
  • Contact
  • Home 2
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Cyber
  • Sample Page
  • Syarat Penggunaan
  • Tim Redaksi
Selasa, 25 Agustus 2026
  • Login
Tamborapost.com
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Tamborapost.com
No Result
View All Result
Home HEADLINE

‎Kisah di Balik Pemecatan Honorer, Habis Manis Dibuang, Dikeluarkan dari Grup WA ‎

Tambora Post by Tambora Post
9 Januari 2026
in HEADLINE
0
‎Kisah di Balik Pemecatan Honorer, Habis Manis Dibuang, Dikeluarkan dari Grup WA  ‎
Ilustrasi honorer dipecat 

 

‎Laporan : Saudi – Dompu ‎

RELATED POSTS

Ketika Sawah Tetangga Panen Dua Kali Lipat, Petani Maluk Mulai Melirik Pertanian Organik Inisiatif AMMAN

Menyusuri Lereng Hijau AMMAN: Reklamasi Progresif di Tengah Gemuruh Alat Berat

PAGI ITU, suara lonceng sekolah tetap berbunyi seperti biasa. Anak-anak berlarian masuk ke kelas. Sebagian menggenggam buku tulis lusuh.

‎Sebagian lain menenteng tas yang mulai pudar warnanya. Namun bagi Nuraini, pagi itu terasa berbeda, lebih sunyi, lebih dingin, dan lebih menyakitkan.‎

‎Hampir bertahun-tahun Nuraini mengabdikan dirinya sebagai tenaga honorer di sebuah sekolah dasar negeri di Dompu.

‎Ia bukan guru berstatus ASN. Bukan pula pegawai dengan gaji tetap. Tapi setiap hari, ia datang lebih pagi dari yang lain.  Membuka ruang kelas. Membersihkan papan tulis. Membantu guru mengatur administrasi. Bahkan sering menggantikan mengajar ketika guru berhalangan.‎

‎Upah yang diterima tak seberapa. Ia terima setiap pencairan dana BOS, satu kali dalam tiga bulan. Namun ia tak pernah banyak mengeluh. Baginya, sekolah adalah rumah kedua, dan murid-murid adalah alasan ia bertahan.‎

‎“Yang penting bisa makan dan anak-anak tetap sekolah,” begitu kalimat yang sering ia ucapkan pada rekan sesama honorer.

‎Namun pengabdian panjang itu seolah tak berarti apa-apa ketika keputusan bupati turun. Kontrak ribuan tenaga honorer di Kabupaten Dompu sebanyak 2.920 orang tidak diperpanjang. Mereka dinyatakan tidak terdaftar dalam database BKN.‎

‎Tak ada panggilan resmi. Tak ada penjelasan panjang. Hanya sebuah pesan singkat di grup WhatsApp sekolah.‎

‎“Terhitung mulai bulan ini, honorer yang tidak terdaftar BKN tidak lagi bertugas.”‎

‎Beberapa menit setelah pesan itu terkirim, namanya  menghilang dari grup WhatsApp sekolah. Tanpa pamit. Tanpa ucapan terima kasih.

‎Siang hari, sebelum jam pulang, ia membereskan barang-barang pribadinya. Sepasang sandal jepit yang selalu disimpan di sudut ruang guru, botol minum, dan map plastik berisi berkas lama. ‎

‎Ia berdiri lama di depan kelas yang biasa ia bersihkan setiap pagi. Seorang murid menghampiri. “Bu, besok masih datang, kan?”‎

‎Ia memeluk seorang murid tersebut. Dan tersenyum dengan paksa. Seolah sedang menyembunyikan sebuah luka. Tetapi matanya basah. Ia mengangguk pelan, meski tahu, besok ia tak lagi punya hak untuk datang.‎

‎Di rumah kontrakannya yang sempit, Nuraini harus menjelaskan pada anaknya tidak banyak minta uang jajan. Pada suaminya, ia hanya berkata singkat, “Saya sudah tidak dipakai lagi.”

‎Masalah utama bukan sekadar pemutusan kontrak. Tapi cara negara dan pemerintah daerah mengakhiri pengabdian ribuan orang tanpa transisi yang manusiawi.‎

‎Tak ada pendampingan. Tak ada skema alternatif. Bahkan sekadar ucapan terima kasih pun nihil.

‎‎“Kalau memang kami harus pergi, panggil kami baik-baik. Jelaskan. Jangan hapus kami dari grup WA seperti spam,” katanya.

‎Kini, Nuraini kembali menjadi ibu rumah tangga tanpa penghasilan tetap. Ia masih sering melewati sekolah itu. Mendengar lonceng berbunyi. Melihat murid-murid yang dulu memanggilnya “Bu”.‎

‎“Yang paling berat bukan soal uang. Tapi perasaan tidak dianggap, setelah bertahun-tahun setia,” ucapnya. ‎

‎Di balik angka 2.920 honorer, ada ribuan cerita serupa. Tentang pengabdian yang tak pernah masuk database. Tentang kerja yang tak tercatat sistem. Tentang manusia yang kalah oleh kolom administrasi.

‎Sekolah-sekolah tetap berjalan. Pemerintahan tetap beroperasi. Bagi pemerintah, ini mungkin soal regulasi dan administrasi. Tapi bagi Nuraini dan ribuan honorer lain, ini adalah akhir dari pengabdian panjang yang tak pernah benar-benar diakui.‎

‎Mereka pernah dibutuhkan saat tenaga kurang. Dipanggil ketika sekolah kekurangan tangan. Tapi kini, setelah bertahun-tahun setia, mereka pergi dengan satu kalimat dingin. Kontrak tidak dilanjutkan.

‎‎Habis manis, dibuang. Bahkan sekadar tinggal di grup WhatsApp pun tidak lagi diperbolehkan. (*)

‎

‎

‎

‎

Loading

Tags: Dikeluarkan dari Grup WA ‎Habis Manis DibuangHonorer Dompu‎KisahNtbPemecatan Honorer

Related Posts

Ketika Sawah Tetangga Panen Dua Kali Lipat, Petani Maluk Mulai Melirik Pertanian Organik Inisiatif AMMAN

Ketika Sawah Tetangga Panen Dua Kali Lipat, Petani Maluk Mulai Melirik Pertanian Organik Inisiatif AMMAN

by tamborapost
24 Agustus 2026
0

Panen perdana sekaligus syukuran pertanian organik yang diinisiasi oleh PT. AMMAN Mineral untuk petani di Maluk dan Benete.   Hasil...

Menyusuri Lereng Hijau AMMAN: Reklamasi Progresif di Tengah Gemuruh Alat Berat

Menyusuri Lereng Hijau AMMAN: Reklamasi Progresif di Tengah Gemuruh Alat Berat

by tamborapost
24 Agustus 2026
0

Inilah lahan bekas tambang yang sudah hijau kembali setelah dilakukan reklamasi oleh PT. AMMAN Mineral.   Di tengah deru kendaraan...

Ketika Investasi Rp390 Miliar Hadirkan Bandara, AMMAN Buka Gerbang Baru Ekonomi dan Pariwisata Sumbawa Barat

Ketika Investasi Rp390 Miliar Hadirkan Bandara, AMMAN Buka Gerbang Baru Ekonomi dan Pariwisata Sumbawa Barat

by tamborapost
24 Agustus 2026
0

Bandara Amman Mineral Poto Tano dibangun dengan investasi sekitar Rp390 miliar oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN).   Bukan...

Presisi Rekayasa di Laut Dalam: Bagaimana Teknologi Menjawab Risiko Tailing Batu Hijau

Presisi Rekayasa di Laut Dalam: Bagaimana Teknologi Menjawab Risiko Tailing Batu Hijau

by tamborapost
24 Agustus 2026
0

Pengendalian risiko ekologis dari material sisa pengolahan dilakukan PT. AMMAN melalui sistem digital dan rekayasa terintegrasi.   Di balik perairan...

Menjinakkan Asap, Merawat Kepercayaan: Ketika Teknologi Smelter AMMAN Mengubah Polutan jadi Nilai

Menjinakkan Asap, Merawat Kepercayaan: Ketika Teknologi Smelter AMMAN Mengubah Polutan jadi Nilai

by tamborapost
22 Agustus 2026
0

Cerobong asap fasilitas smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. (Saudi/Tambora Post)  ...

Next Post
‎Bupati Dompu Tinjau Langsung Warga Terdampak Banjir di Kecamatan Hu’u  ‎

‎Bupati Dompu Tinjau Langsung Warga Terdampak Banjir di Kecamatan Hu’u ‎

‎Buka STQ Desa Daha, Bupati Dompu Ingatkan Warga Jaga dan Pelihara Lingkungan Alam

‎Buka STQ Desa Daha, Bupati Dompu Ingatkan Warga Jaga dan Pelihara Lingkungan Alam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result




Pos-pos Terbaru

  • Ketika Sawah Tetangga Panen Dua Kali Lipat, Petani Maluk Mulai Melirik Pertanian Organik Inisiatif AMMAN
  • Menyusuri Lereng Hijau AMMAN: Reklamasi Progresif di Tengah Gemuruh Alat Berat
  • Ketika Investasi Rp390 Miliar Hadirkan Bandara, AMMAN Buka Gerbang Baru Ekonomi dan Pariwisata Sumbawa Barat
  • Presisi Rekayasa di Laut Dalam: Bagaimana Teknologi Menjawab Risiko Tailing Batu Hijau
  • Tanggap Bencana Kebakaran Desa Adat Sade, Bank NTB Syariah Salurkan Bantuan Air Bersih dan Paket Sembako
Januari 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Des   Feb »
Januari 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Des   Feb »
Januari 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Des   Feb »
  • Beranda
  • Contact
  • Home 2
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Cyber
  • Sample Page
  • Syarat Penggunaan
  • Tim Redaksi

© 2020 Tamborapost.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Contact
  • Home 2
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Cyber
  • Sample Page
  • Syarat Penggunaan
  • Tim Redaksi

© 2020 Tamborapost.com