Langit Dompu pagi itu tampak teduh. Di tengah hamparan sawah yang mulai menguning, denyut kehidupan petani tetap berjalan seperti biasa—sunyi, namun penuh harap.
Di balik kesederhanaan itu, ada satu cerita yang jarang terdengar: tentang kerja sunyi pemerintah daerah yang berjuang di tengah keterbatasan.
Kabupaten Dompu bukanlah daerah dengan kemewahan fiskal. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang terbatas sering kali menjadi tembok yang membatasi langkah pembangunan. Namun, bagi Bupati Dompu, Bambang Firdaus, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bergerak.
Ia memilih jalan lain—jalan yang lebih sunyi, tetapi penuh determinasi: membangun jejaring, memperkuat komunikasi, dan mengetuk pintu-pintu kekuasaan di tingkat provinsi hingga pusat.
Di sinilah peran Dinas Pertanian dan Perkebunan Dompu menjadi sangat strategis. Tidak sekadar menjalankan program rutin, dinas ini menjadi “mesin lapangan” yang menerjemahkan visi besar menjadi langkah konkret.
Bersama jajaran teknis, Bupati aktif melakukan lobi ke pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi NTB. Mereka membawa satu pesan sederhana namun kuat: Dompu butuh perhatian, terutama untuk sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
Langkah ini bukan tanpa tantangan. Di tengah banyaknya daerah yang juga berlomba mendapatkan perhatian pusat, Dompu harus mampu meyakinkan bahwa setiap bantuan yang diberikan akan berdampak nyata.
Dan kerja itu tidak sia-sia. Perlahan, pintu-pintu itu mulai terbuka.
Bantuan demi bantuan mulai mengalir. Program demi program mulai diarahkan. Bukan sekadar angka di atas kertas, tetapi menjadi harapan yang benar-benar bisa disentuh oleh petani.
Di balik itu semua, ada kerja kolektif yang jarang terlihat: koordinasi yang intens, komunikasi yang terjaga, serta kepercayaan yang terus dibangun antara pemerintah daerah dan pusat.
Dompu sedang membuktikan satu hal penting—bahwa keterbatasan anggaran tidak harus berujung pada keterbatasan harapan. Dan cerita ini baru saja dimulai. (Kerjasama)
![]()










