Suasana ricuh di GOR Tustura, Lombok Tengah saat berlangsung pertandingan final antara Tim Voli Putra dari Kabupaten Dompu melawan Lombok Barat.
MATARAM — Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB XII 2026 seharusnya menjadi panggung unjuk prestasi para atlet terbaik dari 10 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat.
Ajang ini dirancang sebagai arena persaingan sehat, seleksi menuju Pekan Olahraga Nasional (PON), sekaligus momentum mempererat persaudaraan antardaerah.
Namun, di tengah semangat kompetisi, sejumlah insiden kericuhan justru mewarnai pelaksanaan berbagai cabang olahraga. Dalam rentang beberapa hari terakhir, sedikitnya empat peristiwa memicu ketegangan, mulai dari lapangan sepak bola, arena drumband, pertandingan bola voli hingga final tinju.
Rangkaian kejadian tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan penyelenggaraan, kualitas kepemimpinan pertandingan, serta kedewasaan seluruh pihak dalam menerima hasil kompetisi.
Kericuhan pertama terjadi di GOR Turide, Kota Mataram, saat pertandingan sepak bola mempertemukan Kota Bima melawan Kabupaten Sumbawa Barat.
Pertandingan yang berlangsung sengit berubah panas ketika terjadi ketegangan antarpemain. Situasi kemudian meluas hingga melibatkan sejumlah ofisial kedua tim. Aksi saling dorong bahkan berujung saling pukul di tepi lapangan.
Insiden itu memaksa wasit menghentikan pertandingan sementara. Aparat keamanan dan panitia berusaha memisahkan kedua kubu sebelum pertandingan akhirnya dapat dilanjutkan kembali dengan skor imbang 2-2.
Peristiwa tersebut menjadi alarm pertama bahwa tensi persaingan Porprov tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan edisi sebelumnya.
Ketegangan kembali muncul pada Jumat (17/7/2026), namun kali ini bukan di arena pertandingan.
Sejumlah anggota kontingen Kota Bima mendatangi Kantor KONI NTB dengan nada protes keras terhadap hasil cabang olahraga drumband. Mereka mempertanyakan keputusan dewan juri setelah Kota Bima hanya ditetapkan sebagai peraih juara ketiga.
Kontingen Kota Bima menilai hasil tersebut tidak mencerminkan penampilan tim mereka di lapangan. Mereka juga mempertanyakan adanya pengumuman hasil yang sempat diulang, sehingga memunculkan dugaan adanya perubahan keputusan di belakang layar.
Suasana di kantor KONI sempat memanas. Sejumlah perwakilan kontingen meminta penjelasan resmi mengenai proses penilaian hingga penetapan pemenang.
Meski berlangsung dalam tensi tinggi, situasi akhirnya dapat dikendalikan setelah dilakukan komunikasi antara panitia dan perwakilan kontingen.
Kericuhan berikutnya terjadi, Sabtu (18/7/2026) di GOR Tastura, Kabupaten Lombok Tengah, saat laga final bola voli putra mempertemukan Kabupaten Lombok Barat melawan Kabupaten Dompu.
Pertandingan yang sejak awal berlangsung ketat berubah ricuh pada set kedua.
Insiden bermula ketika salah seorang pemain Dompu diduga tidak menerima keputusan wasit. Protes yang semula dilakukan di dalam lapangan kemudian berkembang menjadi aksi saling dorong antarpemain.
Situasi semakin memanas ketika sejumlah kursi di sekitar lapangan ikut terlempar. Aparat kepolisian bersama petugas keamanan segera masuk ke arena untuk mengendalikan keadaan dan mengamankan para pemain.
Pertandingan sempat dihentikan beberapa saat. Setelah dilakukan mediasi, kedua tim akhirnya sepakat melanjutkan pertandingan dengan menjunjung tinggi sportivitas.
Lombok Barat kemudian berhasil menuntaskan pertandingan dengan kemenangan 3-1 sekaligus memastikan medali emas cabang olahraga bola voli putra. Sementara Dompu harus puas membawa pulang medali perak.
Belum reda ketegangan di arena voli, pada hari yang sama kericuhan kembali pecah di Gelanggang Pemuda, Kota Mataram, lokasi pertandingan tinju.
Insiden terjadi seusai final kelas 57 kilogram yang mempertemukan petinju Dompu, Syaiful, melawan petinju Kabupaten Sumbawa, Aji Cahya Maulana.
Sejak ronde pertama hingga ronde ketiga, kedua petinju menampilkan duel yang berlangsung ketat dengan saling melancarkan serangan.
Namun suasana berubah setelah wasit mengumumkan kemenangan bagi petinju Dompu.
Keputusan tersebut langsung diprotes kubu Kabupaten Sumbawa. Official dan pendukung dari sudut merah menilai hasil pertandingan tidak sesuai dengan jalannya laga.
Protes yang berlangsung emosional sempat memicu kericuhan di sekitar arena. Aparat keamanan segera melakukan pengamanan untuk mencegah bentrokan meluas.
Meski demikian, insiden tersebut tidak mengganggu kelanjutan pertandingan final lainnya. Seluruh rangkaian pertandingan tinju tetap dapat diselesaikan hingga selesai.
Sportivitas Dipertaruhkan
Rangkaian insiden yang terjadi di berbagai cabang olahraga menunjukkan bahwa Porprov tahun ini tidak hanya menghadirkan persaingan perebutan medali, tetapi juga menguji kematangan seluruh elemen olahraga daerah.
Dalam setiap ajang multi-event, dinamika pertandingan memang tidak dapat dihindari. Keputusan wasit, penilaian juri maupun hasil pertandingan sering kali memunculkan perbedaan pandangan.
Namun, ketika ketidakpuasan berubah menjadi aksi kekerasan, intimidasi, hingga perusakan fasilitas pertandingan, nilai utama olahraga justru menjadi taruhannya.
Porprov sejatinya merupakan ruang pembinaan atlet menuju level nasional. Karena itu, kualitas pertandingan tidak hanya diukur dari banyaknya medali yang diraih, melainkan juga dari bagaimana atlet, pelatih, official, juri dan penyelenggara menjaga etika kompetisi.
Rentetan kericuhan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi penyelenggara Porprov NTB XII 2026.
Evaluasi tidak hanya menyangkut pengamanan arena pertandingan, tetapi juga kualitas kepemimpinan wasit dan juri, mekanisme penyelesaian sengketa pertandingan, hingga sistem komunikasi terhadap kontingen apabila terjadi keberatan atas hasil perlombaan.
Tanpa mekanisme penyelesaian yang transparan dan dipercaya seluruh peserta, setiap keputusan pertandingan berpotensi memicu konflik baru.
Porprov masih menyisakan sejumlah cabang olahraga yang belum selesai dipertandingkan. Penyelenggara kini dituntut memastikan seluruh pertandingan berlangsung aman, adil, dan profesional agar pesta olahraga terbesar di NTB itu tidak lebihbanyak dikenang karena kericuhan daripada prestasi para atletnya. (di)
![]()










