Ilustrasi
Dulu, malam-malam Rian selalu dihabiskan di depan layar ponsel. Cahaya biru memantul di wajahnya, menemaninya menatap angka-angka berputar cepat di situs judi online. Dengan jemari gemetar, ia berharap menang sekali lagi, sebelum akhirnya berhenti. Kata yang tak pernah benar-benar ditepati.
Kini, semua itu tinggal kenangan pahit. Sudah lebih dari setahun ia berhenti bermain. Tapi bayangan masa lalu itu masih sering datang dalam mimpi. Ia masih bisa merasakan sensasi degup jantungnya kala menunggu hasil taruhan. Rasa percaya diri yang semu saat menang dan kehancuran yang perlahan menelannya ketika kalah.
Rian pernah terperosok dalam dunia yang seolah menyenangkan. Tapi sebenarnya memperbudak. Dari taruhan kecil yang iseng, ia terseret dalam pusaran kehilangan. Uang habis. Pekerjaan hilang. Motor dijual. Mobil orang tuanya digadaikan dan istrinya pergi meninggalkannya.
“Semua berawal dari iseng. Cuma main kecil-kecilan. Tapi lama-lama, saya nggak bisa lepas,” katanya lirih, menatap jauh seakan menembus masa lalu.
Bagi Rian, masa itu seperti kabut yang menelan akal sehatnya. Ia tak lagi peduli waktu, pekerjaan atau janji pada istri. Hidupnya berputar antara harapan menang dan ketakutan kalah. Hingga akhirnya yang ia menangkan hanya kesepian.
“Awalnya saya pikir dia cuma main game. Tapi tiap malam dia terus main. Kalau kalah, dia marah, banting ponsel dan teriak. Kalau menang, dia senyum sendiri. Lama-lama saya capek,” cerita Dila, mantan istri Rian, saat ditemui di rumah orang tuanya.
Dila bertahan selama dua tahun, mencoba mengingatkan dan menasihati. Bahkan meminta bantuan keluarga. Tapi kecanduan Rian sudah terlalu dalam.
Puncaknya, ia mengetahui bahwa Rian menggadaikan mobil milik ayahnya sendiri untuk membayar utang akibat kekalahan besar di situs slot. “Saya nggak kuat lagi. Saya pergi. Saya cerai,” ujar Dila lirih.
Bagi Dila, perceraian bukan sekadar perpisahan. Tapi bentuk penyelamatan diri dan anaknya. Ia takut hidup mereka hancur lebih dalam karena lilitan utang yang tak pernah berhenti.
Psikolog di Kabupaten Dompu, Firmansyah, S.Psi, M.Mkes menegaskan bahwa judi online kini menjadi salah satu bentuk addiction modern yang paling berbahaya. “Ia bekerja seperti narkotika dalam sistem otak. Begitu seseorang mengalami sensasi menang, dopamin meningkat tajam. Otak merekam itu sebagai kesenangan dan akan menagih lagi,” katanya.
Dalam banyak kasus, lanjutnya, pecandu judi online mengalami distorsi realitas. Mereka meyakini bisa “menebus kekalahan” dengan bermain lagi. Padahal secara statistik, semua dirancang agar pemain kalah. “Yang paling berbahaya adalah ilusi kontrol. Mereka merasa bisa menang jika lebih fokus atau punya ‘strategi’. Padahal semua murni keberuntungan yang dimanipulasi sistem,” ujarnya.
Fenomena ini kini menjamur hingga pelosok desa. Kemudahan akses internet, rendahnya literasi digital dan janji “uang cepat” membuat masyarakat mudah tergoda.
Berdasarkan data Komdigi tahun 2025, lebih dari 2,1 juta situs judi online telah diblokir dalam dua tahun terakhir. Namun situs baru terus bermunculan setiap harinya.
Dampak sosial dari judi online begitu luas. Kepala Badan Kesbangpol Dompu, Ardiansya, SE mengaku prihatin dengan peningkatan laporan keluarga yang rusak karena judi daring. “Kami menerima banyak pengaduan dari istri dan orang tua yang anaknya terlilit utang. Mereka bukan hanya kehilangan uang, tapi kehilangan kepercayaan dan masa depan,” ujarnya.
Di lapangan, aparat kerap menghadapi dilema. Para pelaku bukan kriminal keras. Melainkan korban candu digital. Mereka kehilangan kendali. Bukan karena kejahatan murni. Tapi akibat jebakan psikologis yang terus diperkuat iklan dan algoritma.
Fenomena ini bahkan melahirkan istilah baru di masyarakat: “korban slot”. Sebuah sindiran sekaligus realita pahit bahwa ribuan anak muda terjerat hutang karena permainan yang seolah tidak berbahaya.
Ayah Rian, seorang pensiunan guru, tak pernah menyangka anak sulungnya akan sampai sejauh itu. Dengan suara parau, ia bercerita tentang bagaimana mobilnya digadaikan tanpa izin. “Mobil itu hasil tabungan saya tiga puluh tahun. Saya cuma bisa pasrah waktu tahu. Tapi yang paling sakit bukan mobilnya hilang, tapi anak saya bohong,” ungkapnya.
Ia mengaku kini tak lagi punya mobil. Tapi masih sering memikirkan nasib anaknya yang kini tinggal sendirian di kos. “Kami tetap maafkan. Tapi kepercayaan itu, sulit kembali,” ujarnya.
Rasa malu, penyesalan dan hancurnya hubungan keluarga menjadi konsekuensi paling dalam dari kecanduan judi online. Bukan hanya kehilangan harta, tapi kehilangan rasa saling percaya yang dulu menjadi fondasi keluarga.
Pemerintah Indonesia sebenarnya telah melakukan banyak langkah untuk menekan maraknya judi daring. Komdigi rutin menutup ribuan situs per hari, sementara OJK (Otoritas Jasa Keuangan) bekerja sama dengan perbankan untuk memblokir rekening yang terindikasi transaksi ke situs judi.
Namun, sistem ini seperti balapan tanpa garis akhir. Setiap kali satu situs ditutup, dua situs baru muncul dengan domain berbeda. Mereka menggunakan metode enkripsi, server luar negeri hingga aplikasi pesan instan yang sulit dilacak.
Kepolisian sendiri kini menyoroti pentingnya pendekatan sosial dan edukatif, bukan hanya penegakan hukum. “Kita tak bisa hanya menangkapi pemainnya. Yang perlu kita lawan adalah sistem dan pola pikirnya,” kata AKP Ramli, Kasat Reskrim Polres Dompu.
Menurutnya, edukasi masyarakat jauh lebih penting. “Kita perlu ajarkan bahwa judi online itu bukan hiburan, tapi racun yang merusak hidup pelan-pelan,” tegasnya.
Setelah hidupnya berantakan, Rian akhirnya menjalani konseling di salah satu lembaga rehabilitasi sosial di Mataram. Awalnya ia menolak. Merasa dirinya masih bisa mengendalikan. Tapi setelah berbulan-bulan tanpa uang, tanpa keluarga dan tanpa pekerjaan, akhirnya menyerah.
“Waktu saya sadar, semuanya sudah hilang. Istri pergi. Anak nggak mau ketemu. Orang tua kecewa. Saya cuma punya rasa bersalah,” ucapnya menatap kosong.
Proses pemulihan pecandu judi online membutuhkan waktu panjang. Tak ada obat yang bisa menyembuhkan seketika. Terapi perilaku, dukungan keluarga dan lingkungan yang sehat menjadi kunci.
Namun tantangan terbesar tetap pada kemauan individu untuk berhenti.
“Kalau niatnya belum datang dari diri sendiri, semua percuma. Karena candu itu tidak hanya di otak, tapi juga di perasaan,” tambah Psikolog, Firmansyah.
Fenomena judi daring adalah peringatan keras bagi masyarakat. Kemajuan teknologi tak selalu berarti kemajuan moral dan kesejahteraan. Ketika literasi digital rendah, teknologi justru menjadi jebakan yang mematikan.
Pemerhati sosial Dompu, Ahmad Syaifuddin, menilai bahwa edukasi literasi digital harus dimulai dari lingkungan keluarga dan sekolah. “Anak-anak sekarang hidup di dunia dua layar. Nyata dan digital. Kalau orang tua tidak memahami cara mereka berinteraksi di dunia maya, maka kontrol itu hilang,” katanya.
Ia menegaskan, edukasi tentang risiko finansial, etika digital dan bahaya judi online harus masuk ke kurikulum sekolah. “Ini bukan lagi isu dewasa. Anak SMP pun sudah bisa akses situs judi hanya dengan satu klik,” tegasnya.
Kini, Rian memulai hidup dari awal. Ia bekerja sebagai buruh cuci motor. Penghasilannya tak besar, tapi cukup untuk makan. Ia masih berusaha memperbaiki hubungan dengan keluarganya. Sesekali ia menulis catatan harian, mengingatkan dirinya sendiri agar tidak kembali ke lubang yang sama. “Setiap kali lihat ponsel, saya takut. Takut tergoda lagi. Saya ingin hidup tenang, meski sederhana,” terang Rian.
Dari kisah Rian, kita belajar satu hal. Kecanduan judi online bukan tentang kalah atau menang. Tapi tentang kehilangan kendali atas diri sendiri. Uang bisa dicari, tapi waktu, kepercayaan dan keluarga yang pergi. Itu tak bisa dibeli kembali.
Kini, judi online tak lagi sekadar “mainan digital”. Ia telah menjelma menjadi wabah sosial yang menggerogoti lapisan masyarakat, dari mahasiswa hingga buruh. Dari kota hingga desa. Di balik layar ponsel yang tampak sepele, ada ribuan keluarga yang remuk, rumah tangga yang tercerai-berai dan masa depan yang terbuang.
Edukasi, kesadaran dan keberanian untuk berkata cukup adalah senjata utama. Karena pada akhirnya, kehilangan terbesar bukan uang yang habis di layar, tapi hidup yang tak pernah kembali. (di)
![]()










