Penulis : Saudi Al Gibran
DI UJUNG barat Kabupaten Dompu, tepatnya di Dusun Sorisoga, Desa Pekat, berdiri sebuah sekolah dasar kecil yang dikelilingi hamparan ladang dan jalan tanah berdebu.
Jaraknya sekitar tiga kilometer dari jalan lintas Calabai. Tidak terlalu jauh di peta, namun cukup untuk membuat langkah berat bagi siapa pun yang menapakinya di musim hujan. Di sinilah, Kepala SDN 20 Pekat, Muksin, S.Pd, menyalakan lentera kecil pendidikan di tengah keterpencilan.
Ketika TamboraPost berkunjung ke sekolah itu, suasana riuh terdengar dari sebuah ruangan sederhana di sudut halaman sekolah. Sekelompok anak kecil, sebagian belum genap berusia enam tahun, tengah bernyanyi sambil bermain.
Mereka bukan siswa SD, melainkan anak-anak Taman Kanak-Kanak (TK) yang dibangun secara swadaya oleh Kepala Sekolah.
“Awalnya hanya karena kasihan. Banyak orang tua yang datang membawa anaknya untuk sekolah, tapi usia mereka belum cukup masuk SD. Akhirnya saya berpikir, kenapa tidak sekalian dirintis TK saja,” katanya.
Ide sederhana itu tumbuh menjadi kenyataan pada tahun 2023. Tanpa dukungan anggaran pemerintah, Muksin mengrogoh kocek pribadi untuk membeli kebutuhan TK dan menggaji guru-guru. Ia memanfaatkan salah satu ruangan kosong di SDN 20 Pekat sebagai kelas sementara.
Jumlah anak-anak TK kini mencapai 25 orang, sebagian besar berasal dari keluarga petani di Dusun Sorisoga dan sekitarnya. Kegiatan belajar berlangsung setiap pagi, dibimbing oleh guru SD yang bersedia merangkap menjadi guru TK.
“Kalau tidak ada semangat kebersamaan, tidak mungkin bisa berjalan. Guru-guru di sini luar biasa. Mereka tidak hitung-hitungan soal waktu. Yang penting anak-anak bisa belajar,” ungkapnya.
Dengan fasilitas seadanya, anak-anak itu tetap ceria. Di tengah ruang dengan alat peraga yang terbatas, mereka belajar mengenal huruf, angka dan warna. Di sela-sela pelajaran, mereka menari dan bernyanyi bersama. Tidak ada taman bermain berwarna cerah, tidak ada alat peraga canggih. Tapi ada satu hal yang melimpah di sana. Cinta dan keikhlasan.
Harapan di Tengah Keterbatasan
Sekolah ini memang terpencil, tapi semangatnya tidak kecil. Muksin berharap, pemerintah Kabupaten Dompu melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Dompu dapat menegerikan status TK yang kini masih berdiri atas nama swadaya masyarakat.
“Kalau sudah dinegerikan, guru-gurunya bisa lebih tenang, anak-anak juga bisa mendapatkan fasilitas yang layak,” ujarnya pelan.
Ia juga berharap perhatian bagi dusun-dusun kecil seperti Sorisoga yang kerap terlewat dari perhatian. Sebab bagi mereka, pendidikan bukan hanya soal angka dan data, melainkan hak dasar untuk bermimpi.
Bagi Muksin, pendidikan adalah jalan sunyi yang harus tetap ditempuh. Ia sadar, di wilayah seperti Pekat, jarak dan medan sering menjadi penghalang, tetapi pengabdian tidak boleh berhenti.
“Saya hanya ingin anak-anak di sini punya kesempatan yang sama seperti anak-anak di kota,” katanya menutup percakapan, menatap ke arah ruang tempat anak-anak tertawa riang.
Dari dusun kecil di lereng Tambora ini, lahir kisah besar tentang dedikasi seorang guru yang memilih bertahan dan berbuat. Ketika yang lain mungkin telah menyerah. Sebuah kisah yang mengingatkan kita, bahwa pendidikan sejati bukan sekadar program, melainkan panggilan hati. (*)
![]()










